Tampilkan postingan dengan label S p e c i a l l y. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label S p e c i a l l y. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2024

Selalu Ada

Dalam setahun ada satu bulan yang membawa perasaan paling campur-aduk bagi keluarga besar kami. Bulan Desember, bulan paling akhir, bulan paling sibuk dibanding bulan-bulan lain sepanjang tahun sekaligus bulan paling penuh dengan kenangan yang harus diterima, entah kadang masih terasa menggetirkan, atau justru menggetarkan hati. Dan saya ingin berbagi cerita ini pada bulan Oktober, dua bulan sebelumnya, seakan mempersiapkan diri untuk memilih posisi perasaan apa yang harus saya jalani pada saatnya tiba.

Bulan Desember diawali dengan kenangan kepergian lelaki paling penting dalam hidup saya, Papa, yang meninggal dengan tenang setelah sakit dan dirawat beberapa waktu lamanya. Kondisi yang disembunyikan dari saya karena saat itu saya sedang mempersiapkan diri untuk ujian akhir semester SMA di tanah Jawa. Kenangan getir, karena saya baru bisa pulang mengunjungi makamnya di Jayapura 2 minggu setelah kepergiannya, saat ujian saya sudah usai. Menjadi yang terakhir tiba di rumah untuk mengenang beliau, adalah batu pemberat pertama yang mengisi kantung hati saya yang kecil ini, yang saya bawa ke mana-mana, bertahun-tahun setelahnya.

Tahun berlalu, sampai pada bulan Desember ke-sekian, sosok lelaki terpenting berikutnya juga harus pergi untuk selamanya. Satu-satunya kakak laki-laki kandung yang saya punyai harus menghadap Tuhan setelah dirawat akibat penembakan oleh mantan staf di LSM kesehatan tempatnya bekerja. Berpulang sendirian di tanah orang, benua yang jauh dari tanah kelahiran, di akhir bulan Desember. Kali ini benar-benar kegetiran yang menggetarkan hati karena begitu banyak kejadian, drama, rahasia yang terungkap ikut mewarnai kepergiannya, sekaligus mengantarkan kepulangannya dari Addis Ababa ke Jakarta saat itu. Batu kecil berat berikutnya menempati posisinya dalam kantung hati saya lagi.

Dua kenangan yang mengawali dan menutup bulan Desember itu sempat membuat kami semua yang ditinggal mesti rajin-rajin menguatkan diri, menegarkan hati dan mencari hikmah terbaik untuk saling memberi penghiburan lantas hidup terus. Kami mesti menjalani cara kami masing-masing untuk bisa melepaskan dengan iklas, menerima dengan penuh syukur bahwa itulah jalan terbaik dariNya.

Akhir bulan Desember beberapa tahun sesudahnya lagi membawa kenangan menggetarkan lainnya. Mama jatuh dan mengalami patah tangan, digips dan harus beristirahat hanya sehari sebelum malam Tahun Baru. Kecelakaan di dalam rumah, di satu-satunya tempat yang kami percayai sebagai tempat teraman baginya di masa tua. Berlanjut dengan penurunan kondisi berbulan-bulan karena cedera tangannya, Sayangnya, cedera itulah yang menemani beliau sampai berpulang menjumpai kekasihnya. Saya kembali kehilangan pelukan terakhirnya karena baru bisa tiba sehari setelah kepergiannya. Sekali ini rasanya batu besar dan berat yang berguling cepat masuk dalam kantung kecil hati saya.

Tidak sampai tiga tahun setelahnya, ada kenangan baru yang menyusul. Seorang kakak saya mengalami gejala tumor, yang disadari dan diketahuinya pada bulan Desember pula. Tumor ini berkembang menjadi kanker, mengganas dengan cepat dan hebat, lantas mengisi hari-berbulannya dengan penderitaan nyaris tak tertanggungkan. Menangis dalam diam, kehilangan keceriaan, kesulitan tidur dan beristirahat, memaksanya mengiklaskan rambut tebal dan lemak-daging di tubuhnya adalah sebagian pengalaman yang harus ditanggungnya, dan harus kami saksikan setiap hari. Menemaninya melewati masa-masa sulit dan penuh kesakitan, persis seperti merapel sekaligus jalan salib berulang-ulang, masa prapaskah dan masa adven berturutan, selama berbulan-bulan sampai kepergiannya. Saya tidak berani mengingat tambahan batu-batu kecil yang bergiliran masuk ke dalam kantung hati saya, rasanya kantung itu makin sesak keberatan, bahkan siap robek.

Sebelum seluruh kejadian itu, bulan Desember adalah bulan yang selalu menyenangkan, penuh suasana persiapan menyambut Natal dan libur akhir tahun. Suasana beraneka macam ada di rumah, di gereja, di sekolah, di kantor, di mana saja di tanah Papua, dan kadang kalau sedang di luar Papua, suasana liburan akhir tahun akan tampak jelas di pusat-pusat perbelanjaan. Bulan Desember penuh dengan segala kemeriahan, harapan, perjumpaan, semangat berlatih menyanyi, berbagi dan juga melayani. Senyum, tawa riang, kegembiraan, dan riuh keramaian selalu ada.

Tapi sekarang, semua hitung mundur menuju bulan Desember membawa rencana, cerita dan perundingan sendiri di dalam kepala. Posisi mana yang harus saya lewati untuk sampai pada fajar pertama di tahun berikutnya, bila saya masih diijinkan sampai ke sana…

Dan ajaibnya, belakangan ini saya menyaksikan kenangan-kenangan baru yang berbeda untuk bulan Desember, ada kakak yang berupaya mempersiapkan Natal jauh sebelum masa adven, ada usaha keras ponakan dan semua anggota keluarga untuk bisa mudik dan merayakan kebersamaan selama bulan Desember dengan sebisanya, ada banyak pengalaman mengubah diri, berbagi dan melayani yang terus ditambahkan setiap tahunnya. Semua usaha yang diupayakan agar bulan Desember bisa menjadi penutup tahun dengan dipenuhi syukur, rahmat dan sukacita.

Memilih sibuk dengan kepahitan dan kenangan buruk, hiruk pikuk isi kepala dan hati, respon orang lain dan masalah duniawi, atau duduk tenang, mendengarkan dan merasakan sampai di mana dan mau ke mana kita dituntun oleh suara hati dan kebaikanNya. Kita tidak bisa memilih seperti apa takdir dan memaksa nasib kita selalu ramah, tapi kita bisa menyikapinya dengan sebaik-baiknya, sebenarnya hanya kita yang dikaruniai nasib dan takdir seunik ini.

Karena semua kenyataan tentang hidup ini, entah keberadaan, keberlangsungan dan kepergian, dengan cara apapun, akan SELALU ADA. Kita tidak bisa menghindari dan melarikan diri sejauh apapun.

Sekarang, seringkali kantung kecil di hati itu masih terasa sangat berat, selama saya membiarkannya tetap berisi batu pemberat yang menguji saya melangkah lebih jauh. Tapi setiap waktu pula, saya ingin merubahnya menjadi bunga-bunga yang mengharumkan-menyenangkan hidup, atau sayuran-buah yang menyehatkan tubuh hati pikiran, meringankan langkah ke depan. Mungkin saya, juga orang lain bisa ikut merasakan pengaruhnya.

Selalu ada waktu untuk menentukan pilihan dalam menghadapi masalah dan menjalani hidup, dan pilihan kita sendiri yang akan menentukan akhirnya.

Refleksi dari bacaan hari ini Galatia 1:13-24 dan Lukas 10:38-42

Gambar 1-2 di GKI El Elyon Kotaraja ("El-Elyon" - "Tuhan Yang Maha Tinggi"), Gambar 3 di Klinik Medika Jayapura, Gambar 4 di Saga Mall Abepura.

Jumat, 27 September 2024

Dalam Selembar Foto

Sampai hari ini, sudah hampir dua minggu saya merasa tidak bisa cukup tidur pada malam hari. Bukan hanya karena selalu terbangun pas jadwal jaga air PDAM, tiga kali seminggu yang seringnya lewat tengah malam dan bikin susah tidur kembali, tapi sepertinya saya kena gangguan tidur. Hal yang paling saya khawatirkan selama ini, karena bagi saya, tidur cukup adalah obat pertama dan terbaik untuk setiap masalah saya. Saat kepala berat berpikir, atau badan greges; panas-dingin tidak nyaman tanpa tahu penyebab, atau saat migren dan badan pegal-pegal; yang makin sering terasa sejak beres operasi, saya pasti memilih tidur lebih dahulu sebelum mencari obat. Tapi sekarang semua itu makin sulit. Saya hanya bisa berupaya menanggungnya dengan menambah tidur di pagi atau siang saat lelah sekali, banyak minum air putih dan stretching, atau banyak jalan santai di sekeliling rumah emak yang besar ini.

Efek lain yang tidak bisa dielakkan akibat kurang tidur adalah menjalani hari dengan perasaan melayang dan kadang-kadang merasa sedikit halu. Perjuangan untuk mencapai konsentrasi akhirnya menjadi santapan harian rutin. Kadang saya membuat selingan, agar bisa mengalihkan fokus dan menyegarkan badan dan isi kepala. Dan anehnya, keinginan untuk mengerjakan selingan ini, selalu muncul begitu saja, tanpa rencana. Setiap kali, saya berupaya tidak menolak menghindarinya sesuai pesan pastor pembimbing rohani saya, Latih Kepekaan dan Rendah Hati, bersiap menerima dengan iklas dan sukacita atas apa yang akan muncul setiap saat.

Pagi ini saya mendapat dorongan untuk latihan vokal sendiri, menyanyikan lagu Pada WaktuNya (Henry Sutjipto) keras-keras di dalam rumah. Berulang-ulang sampai lelah sendiri. Lagu ini saya pilih karena kebetulan bacaan liturgi hari ini pas temanya sekaligus perikop favorit saya. Saya melanjutkannya dengan membongkar koleksi buku-buku tebal berdebu dalam karton di gudang menjahit emak. Saya menemukan beberapa buku yang, waaah, memang selama ini saya cari, dan saya bahkan tidak ingat ada dalam koleksi beliau. Di atas meja, sambil bersiap sarapan, saya membersihkan buku-buku itu dan membukanya satu-persatu, menemukan banyak sekali harta karun. Saya baru ingat lagi, kalau keluarga besar saya punya hobi berat membaca, semua punya genre berbeda, dan selalu bikin rumah susah rapi karena banyak buku-buku yang terletak di mana-mana, meski sekarang sebagian besar sudah di dalam kardus-kardus di gudang.

Harta karun paling indah yang saya temukan adalah begitu banyak foto keluarga dan kerabat serta kartu-kartu ucapan hari raya yang dijadikan pembatas buku. Begitu banyak kenangan yang disimpan rapi di antara lembar-lembar sarat gagasan di buku-buku tua koleksi emak saya itu. Dan ada satu lembar foto yang menghentikan semua kesibukan saya, membuat air mata saya langsung jatuh

Ini adalah foto kenangan saat saya masih kuliah, awal tahun 1996, semester 2, diambil di Taman Koleksi Kampus IPB Baranangsiang, masa damai sebelum jadi pusat perbelanjaan besar sekali di jantung kota Bogor. Wajah-wajah teman-teman yang baru belajar dan berjuang bersama hampir setahun. Segar sekali. Dan saya menemukan foto ini hari ini, dengan mata berkaca mengenang salah satu yang telah lebih dulu pulang dalam pelukanNya karena lupus, seorang lagi sedang berjuang bertahan hidup karena kanker stadium lanjut, seorang lagi sedang bertahan dengan terapi mingguan supaya bisa stabil kondisinya, seorang lagi benar-benar hilang kontak, dan saya sendiri dengan pergumulan hidup saya. Waktu telah memelihara dan memaksa kami melangkah begini jauh

Selembar foto, menimbulkan segala rasa, saling bertolak belakang, tentang rumitnya hidup masing-masing, banyak sekali kenangan, kerinduan, rasa bersalah, dan harapan ikut muncul. Foto ini, bercerita dan mempertanyakan dalam diam, tentang penyelenggaraan Tuhan, tentang relasi dengan orang lain dan dukungan lingkungan sekitar, juga tentang seluk-beluk kehidupan semua obyek di dalamnya. Bagaimana jalan kami berbeda-beda setelah terpisah dan masih terus berjuang untuk mencapai tujuan akhir yang sama nanti, entah kapan. Mengharukan, karena saya ikut memperkirakan pembatas buku berupa foto adalah bentuk kesediaan seorang almh emak mendoakan anaknya setiap kali beliau temukan ketika buku-buku tua ini beliau buka dan baca.

Satu hal yang pasti, bukan hanya sedih dan terharu, tetapi rindu juga akan selalu ada hanya karena foto selembar ini.

Refleksi hari ini, setelah berjumpa, membersamai dan mengingat banyak orang dan rasa melalui selembar foto. (Pengkhotbah 3:1-11 & Lukas 9: 18-22)

Yang ada di dalam foto (ki-ka): saya, Ellyn Katalina Damayanti (semoga bisa bertemu), almh Tiur Helen Rosmawati Aritonang (Wete, damai di surga e sist), Doris Marsintauli Pardede (peluk paling hangat, erat dan penuh sayang untuk dirimu, pejuang tangguh), dan Wulandari Dwi Utari (salam sayang juga untukmu, jangan menyerah ya Lil), Semoga Tuhan menjaga kita semua. Amin.

Selasa, 17 September 2024

Berbagi Supaya Terus Kebagian

Setelah lama vakum dan kehilangan selera untuk menulis, syukurlah hari ini saya kembali menemukan alasan untuk kembali menulis, atau lebih tepatnya, berbagi. Semoga yang membaca menerima, ini bukan sekedar laporan kegiatan, tapi curhat terselubung. Persis 10 hari yang lalu, saya membaca flyer tentang pelatihan pewarta yang diselenggarakan oleh kelompok kategorial Persekutuan Doa Karismatik Katolik dalam Dekenat Jayapura, Keuskupan Jayapura. Kegiatan pelatihan ini bertajuk besar "Pewarta Yang Memberkati", dan tajuk kecilnya "Sukacita Injil Memenuhi Hati dan Hidup Semua Orang". Saat mendaftar saya tidak berharap banyak bisa mengikutinya karena memiliki jadwal untuk pergi mengumpulkan data penelitian di luar kota Jayapura pada saat yang sama. Tapi akhirnya saya bisa mengikutinya dan membawa banyak pelajaran, kesan dan bekal tak ternilai harganya.

Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari di kompleks Rumah Retret Maranatha, Waena yang dikelola oleh Kongregasi Suster-suster Dina Santo Yoseph. Di depan peserta yang berasal dari 7 Paroki, dari Paroki Katedral Kristus Raja di ujung Teluk Humboldt sampai ke Paroki Kristus Sang Penebus Sentani di kaki Gunung Cyclops, dengan total peserta 60 orang didukung 10 orang panitia - bro and sist penuh semangat dari PDKK, Ibu Katarina Noviyanti Sugita memberikan materi-materi lengkap beserta praktek pewartaan. Metode dan gaya pelatihan yang penuh semangat dari Koordinator Sie Pewartaan BPN PKKI ini mampu membius, membangkitkan semangat, antusiasme dan segala bakat terpendam dari para peserta yang berasal dari beragam kelas usia dan latar belakang. Penjelasan-penjelasan lugas, alasan-alasan, makna-makna tersembunyi dari Sang Firman dan dari Kitab Suci beserta dukungan pilar gereja lainnya, dari Tradisi Suci dan Magisterium yang selama ini belum pernah menjadi perhatian saya, akhirnya menyentuh pemikiran saya.

Banyak bunyi klik di dalam kepala saya saat menemukan banyak potongan puzzle tanda tanya yang selama ini gentayangan dalam kegelisahan saya mulai mencari sambungannya.

Berbeda dengan acara pelatihan biasa yang memungkinkan peserta mendapat materi yang sudah berupa konsep tercetak, atau file slide yang bisa dibaca berkali-kali, pelatihan ini benar-benar melatih peserta untuk berkonsentrasi penuh untuk MENDENGAR dan MENULIS sendiri.

Perlahan saya mengerti, bahwa itu langkah dasar belajar mewartakan suatu pesan penting, bahwa si pembawa pesan mesti menggunakan indra pendengarannya sebaik-baiknya, memprosesnya dalam pemikiran dan hatinya, lalu menuliskannya dengan tepat, menjadi bahan yang dapat dimengerti oleh para penerima pesan. Pesan tertulis itu menjadi bukti bahwa meskipun nantinya akan disampaikan secara lisan, diri si pewarta lebih dahulu mengalami pesan itu bekerja dan mengubahkan seluruh hati dan pemikirannya dahulu sebelum, membuatnya menjadi saksi hidup, sebelum mengajak semua pihak yang mendengarkan pesan yang disampaikannya mengerti pesannya dan mengalaminya sendiri. Dan juga bukti, bahwa proses serumit itu memang bukan melulu kerja otak dan hati, tapi benar-benar digerakkan karena niat suci, Roh Kudus sendiri yang bekerja.

Banyak yang saya khawatirkan awalnya, bahwa apa yang diterima akan berakhir di dalam buku atau kertas catatan ternyata tidak beralasan. Karena pelatihan ini juga mengingatkan, pewartaan yang mengubah diri sendiri itu lebih dahulu terjadi, dan itu akan membawa pewartaan di luar diri sendiri berjalan dengan sendirinya ke depan.

Dalam bahasa resmi ibu pemateri, pelatihan ini memang bertujuan mengubahkan yang datang untuk menjadi pewarta awam lokal yang informatif dan aplikatif sehingga transformatif. Dan tujuan itu barulah bisa tercapai setelah peserta melalui banyak proses, memaksa menembus sekat-sekat pemikiran dan kecemasan diri sendiri, segala ketakutan untuk merasa tidak mampu, tidak pantas dan tidak berani berbagi apa yang ada. Saya melihat dalam pelatihan ini, semua dipaksa meninggalkan ke-aku-an diri sendiri yang serba kekurangan ini, untuk memberi kesempatan Roh Kudus sendiri mengasah kepekaan dan keberanian untuk mewartakan Kristus, Sang Firman Sejati, dengan cara-Nya.

Seluruh rangkaian acara ini bahkan diakhiri dengan Adorasi Sakramen Maha Kudus, dipimpin oleh pastor. Langkah pengutusan yang sangat menyentuh, memohon kekuatan Roh Kudus agar memiliki hati penuh doa dan syukur untuk menyembah dan mewartakan Tuhan yang sejati dalam pribadi Yesus Kristus yang benar-benar hadir dalam Hosti.

Hal-hal yang tidak saya pahami awalnya saat mulai mendaftar sampai pada acara selesai akhirnya bisa tersingkap. Semua yang datang mungkin awalnya merasa tidak punya apa-apa untuk dibagikan, tetapi setelah disadarkan kembali semua sesungguhnya sudah diutus, pasti diperlengkapi dan diberikan dengan berlimpah-limpah, tidak mungkin ditanggung sendiri, harus selalu dibagikan. Seperti sebuah bejana yang fungsinya menampung air bersih, pasti harus sering dialirkan untuk menyuburkan tanah atau dipakai untuk menyegarkan orang yang meminumnya, lalu mendapat kesempatan baru untuk diisi kembali, pasti akan membuatnya lebih berguna daripada hanya dibiarkan mengendap dan berlumut. Terus berbagi, agar bisa selalu ada kesempatan kebagian lagi….

Jumat, 19 Agustus 2022

Kisah Kita

Bernafas, namun tak berasa hidup. Berjiwa, namun berasa tak bernyawa.
Menjalani hari hanya menghitung tiap menit, berusaha melupakan bahwa waktu selalu menjalin rapat dan meninggalkanmu tanpa ampun.
Berbulan, lebih dari tujuh purnama, yang dimampukan adalah berbicara tanpa suara, melihat tanpa bisa berkata, melengkungkan senyum di kaku wajah bertopeng, menyimpan sesak di dada dan sepenuh kepala.
Menghadapimu, memunggungi kenyataan bahwa membisu jauh lebih bermakna, menolak kebenaran bahwa memilikimu adalah semu.
Mengenalmu lebih dari tiga perempat umurku,selama itu pula namamu meremas setiap bilik dalam tubuhku, melubanginya dengan api, memenuhinya dengan asap,dan setiap kali pula membanjirinya dengan nyeri kegilaan.
Memandangmu membawa setiap kepiluan dan pedih dalam mataku, pantulan cahayamu adalah rindu yang mendendam dan mengerak, bahkan rembulanpun tidak cukup jauh untuk melukiskanmu.
Aku terjatuh, dan di juranglah aku menengadah.
Dingin basah titik air menghujaniku, merindukan hangat sinarmu, mentariku

Kau sungguh jauh, tinggi, tak tergapai dalam kepakan sayap-sayap keemasanmu
dan di sini aku terpuruk, merapuh dalam abumu,
kehilangan sayap-sayap patah dari luka menganga di punggungku.



melihatmu berpendar cerah di puncak langit
dari sini, di dasar jurang

Untuk : Sang Phoenix

Minggu, 12 September 2021

You should've known

This very early day remind me of you.
Why do you let me know everything from others? Is it too hard to tell me straight away?
You should've know, that I have the right to know it if it's about me.
You should've understand, that I could choose you if you asked me at that time.
I do really hope we still have more time to be honest.
Even so, thank you, you've made my life never be the same again



I think someone
is praying for someone

I think I can softly hear
a love poem that was silently written

It clearly flies over to you
I hope it reaches you before it's too late

I'll be there, behind you when you walk alone
singing till the end, this song that won't end
Open your ears for just a moment
I'll sing for you, who is walking through an especially long night

Once again, in your world
a star is falling

The silently shed tears
are flowing here

In my silent heart that has lost all words
I hear a voice like hearing a memory

I'll be there, behind you when you walk alone
singing till the end, this song that won't end
Take a deep breath
I'll sing for you, who forgot how to cry out loud

(So you can walk again)
I'll sing
(So you can love again)
Here I am, watch over me
singing till the end, I won't ever stop singing this song
On the day your long night is over
when you lift your head, I'll be right there


The poem written above is English translation from IU's song "Love Poem"

Jumat, 04 Desember 2020

Kekhawatiran

Apa yang paling engkau cemaskan dalam hidup ini?
Ketakutan sebesar apakah yang paling menghantuimu, baik sadar, maupun tanpa sadar?
Pernah engkau membaginya dengan orang lain?
Atau membiarkannya menguasaimu?

Mungkin benarlah, bahwa kenangan tentang jatuh, terjatuh, kejatuhan, menjatuhkan, dan sejenisnya bisa tersimpan begitu kuat dalam pikiran, dan seringkali melibatkan perasaan. Salah satu kenangan tentang jatuh ini menyangkut orang terkasih saya yang sudah pergi, Mama. Waktu, rentetan kejadian, setiap benda, orang dan aktifitas apapun yang terlibat dengan jatuhnya beliau pada saat menjelang sakit, bisa terpelihara dengan sangat segar dalam benak. Seringkali menimbulkan rasa ngilu bila terpicu hal-hal yang terkait dan langsung tergambar kembali dengan jelas. Ada banyak rasa sesal di sana, ada banyak pertanyaan mengapa begini, mengapa begitu, seharusnya begini, seharusnya begitu yang juga terlibat. Segala kesulitan yang mengikuti, tidak pernah hilang pula dari ingatan.

"Semua orang yang sudah lanjut usia mengalami penurunan kondisi tubuh, dan sangat beresiko untuk jatuh dan cedera. Kita hanya bisa berupaya menjaga." Itu juga sebagian dari pesan dokter saat itu yang teringat, bahwa selalu ada peluang hal-hal yang dikhawatirkan akan terjadi. Bersiap dan tetap waspada, hanya itu yang sebenarnya bisa dilakukan.

Saya juga sering jatuh, pernah secara fisik dengan efek luka dan memar yang kelihatan. Namun lebih sering lagi jatuh secara mental, dan dalam pikiran, yang dampaknya tidak kelihatan, tapi justru lebih lama pulih. Jatuh cinta, mungkin saja berdampak lebih lama dan menyehatkan, tapi jatuh sakit secara psikis, selalu tersembunyi dan sulit sembuh. Yang paling mencemaskan, semuanya bisa keluar setiap saat dalam ketakutan dan kegelisahan, penuh trauma.

Seperti sesosok bogart dalam kisah Harry Potter, yang menjelma menjadi ketakutan terdalam setiap penyihir yang menghadapinya, trauma itu membekas begitu dalam.
Atau seperti sosok imoogi dalam kisah siluman rubah penjaga gunung, yang memanfaatkan kecemasan terbesar semua tokoh di dalamnya, kondisi itu berlangsung ratusan tahun.
Bisa saja kekhawatiran akan kejatuhan terlihat hanya sebagai bagian menakutkan dari cerita itu. Semua tokoh pernah jatuh, pernah mengalami masa sulit, bergumul untuk bisa mengatasi rasa sakit, seringkali rasa malu, bergulat sendiri dengan perasaan dan pemikirannya, mencari tenaga untuk pulih kembali, dan bernafas terus dengan segala trauma sesudahnya.

Jadi, karena siapapun punya peluang untuk jatuh, masih mau bangkit kembali kan?
Gambar diambil dari RS Provita, awal tahun lalu, penuh kenangan dari yang terkasih, Ibunda Maria G. Keiluhu-Here.

Rabu, 02 Desember 2020

3 M

Sejak pandemi dimulai, muncul banyak sekali istilah baru, yang berkaitan dengan penyakitnya lah, penderitanya lah, dampaknya lah, kebiasaan barunya lah, segala macam, berisik sekali sampai berasa bisa bikin cabang ilmu baru di dalam ilmu Filsafat. Ilmu paling ajaib yang akhirnya, bisa juga saya pelajari sekarang, meski seperti biasa berujung dengan membawa lebih banyak pertanyaan tidak berjawab lagi.

3M, budaya adaptasi kebiasaan baru, cara termudah yang bisa dijalankan siapa saja untuk mencegah tertular Covid, awalnya menjemukan sekali untuk diikuti. Mengingatkan diri sendiri dan orang lain untuk selalu memakai masker, mencuci tangan sesering mungkin dan menjaga jarak, bukan hal mudah. Belum lagi kalau ada yang merasa diri kebal dan lantas bersikap bebal, membuat kita berusaha menambah kemampuan lebih, mengendalikan diri. Menahan diri sendiri supaya lebih tertib mengatur seluruh indera dan kebiasaan sendiri, supaya sedikitnya tetap bertahan sehat, waras, dan tidak muak dengan keadaan serta tim KB kebal-bebal tadi.

Menertibkan diri sendiri, bagi saya lebih ke arah menenangkan diri sendiri sembari mengingatkan bahwa segala kemustahilan adalah hal yang mungkin saja terjadi saat-saat ini. Virus tak kasat mata telanjang ini membuat banyak hal bisa terlihat dengan mata bahkan tanpa perlu terbelalak.
Melihat, bahwa nasib manusia sungguh serupa, terlahir, mesti berjuang untuk tetap hidup dan bertahan, atau hanya bisa berpasrah bila sang akhir sudah menjemput.
Memaksa kita untuk merasakan, bahwa bahkan segala daya, upaya, dana dan tenaga bahkan bisa memiliki batas.
Membuat kita mengerti, bahwa terkadang hanya harapan, doa, dan perasaan yang paling dalam saja yang bisa menguatkan kita pada saat kita berserah.

3M, mungkin bisa memiliki banyak versi untuk setiap orang, entah mereka menyadari, melakukan, atau mengabaikannya, memang kembali menjadi pilihan diri. Tapi bagi saya, melihat orang-orang terkasih berjuang keras hidup lagi, merasakan setiap nyeri, sesak, air mata, senyum mereka, dan mengerti betapa banyak berkat yang dialami, menghidupkan misteri menyenangkan tentang hidup sendiri.

Mengapa kita hidup? Ke manakah akan menuju kelak? Bagaimana nanti?



Untuk kakak-kakakku terkasih & semua pejuang COVID19. Semoga selalu diberkati Tuhan.

Jumat, 30 Oktober 2020

Menjaga Lilin

Semalam, waktu panasnya kenangan tentangmu lebih menyengat ketimbang cahaya lilin di atas lantai, aku menyerah. Terlalu banyak halaman yang belum selesai dibaca, huruf-huruf dan kata-kata berlarian tidak mau berhenti. Bahasa yang sama, bahasa yang berbeda, rumus yang sederhana, sampai yang hanya dimengerti oleh mesin, semua berebut ingin diperhatikan. Dan kembali rasa sesak di dada mulai menyerang, dengan nyeri dan sedikit kebas mulai menyerang lengan, bahu dan leher.

Malam Jumat yang tidak seperti biasanya, mengingat sudah ada niatan untuk menantikan sesuatu, entah tercapai atau tidak. Apa sebenarnya makna cahaya lilin di hadapan kali ini? Hanya sekedar penanda untuk menghitung sudah berapa kali listrik dipadamkan tanpa aba-aba? Atau pereda rasa pengap karena fobia gelap tidak pernah bisa hilang? Atau bisa jadi teman sumber harapan dan kekuatan yang menjaga lantunan doa-doa pasrah belakangan ini? Atau penyemangat supaya bisa membuat niatan untuk menanti waktu lewat tengah malam terwujud? Yang pasti,bukan sarana pesugihan yang makin banyak ditawarkan secara online di medsos dan gadget-gadget akhir-akhir ini. Terlalu banyak tanya untuk hanya sekedar cahaya hangat kecil ini. Dan karena melihat cahaya lilin kecil ini, ingatan tentangmu malah makin besar.

Kau, ingatan tentangmu, cahaya lembut yang menerangi lembar-lembar buku penuh tulisan usang berpuluh tahun lalu. Saat isi kepala dan hari-hari masih sederhana, kata dan makna masih begitu beragam, dan apapun selalu tampak menarik karena penuh gelisah masa muda.
Kau, ingatan tentangmu, cahaya yang terkadang suram dan sering terlalu terang saat mulai menapaki jalan pasir, berbatu, berliku, dan berusaha keluar dari banyak badai. Saat semua mulai merumit, dan kata mulai berbahasa dengan rasa yang berbeda, memasuki samudera yang terlalu luas penuh gelombang.
Kau, ingatan tentangmu, cahaya yang selalu ada di sana, sejauh pandangan mata, tapi tetap juga di dalam sini, menyala tenang dalam satu ceruk hati, tidak pernah padam meski berulang meredup karena jerih lelah. Saat menjaga nyalamu adalah satu-satunya yang menguatkanku dan melemahkanku sekaligus, di setiap tarikan nafasku yang sering tak tertahankan ini. Kutahu cahayamu selalu menghangatkan sangat banyak relung gelap dan dingin, dan karena itu aku harus rela berbagi.

Haruskah kuberhenti? Untukmu sendiri, perlukah kau menjaga lilinmu sendiri? Atau pernahkah? Sampai kapan? Atau masih perlukah kau menyalakan lilin? Jawabanmu? Lantas keputusanku menjaga lilin ini?
Sungguh mengesalkan sekali, melihat bayanganmu menyeringai dengan mata letih membayang dari tirai penuh renda di jendela. Baiklah, sekali ini keputusannya adalah menyerah, tidur, membiarkan lilin yang menyala terbakar pelan. Cahayanya menemani nyenyak tanpa mimpi malam ini. Tinggalkan tumpukan tugas dan ujian yang belum usai.

Hingga subuh tadi, lampu sudah menyala lagi, semua di-kembali-kan ke jalan yang benar, dan begitulah, apa yang diniatkan semalam akhirnya tidak tercapai, dan mesti disambung pagi ini.

Selamat ulang tahun, sosok cahaya yang selalu setia,
menyinari dan menghangatkan punggung dan wajahku,
meski terlewat dari menit pertama tengah malam tadi.
Tetaplah kuat cahayamu, dalam kegelapanmu,
dalam terang siangmu, setiap saat.
Semoga kasih, kekuatan, rahmat
dan segala yang terbaik selalu dianugerahkan Tuhan,
untukmu.
Amin.

Kamis, 01 Oktober 2020

Hal kecil, kenangan yang besar

Kita sering tidak menyadari bahwa di dalam hidup kita, justru hal-hal kecil yang menyimpan kenangan yang begitu besar dalam ingatan kita. Hari ini saya mengalami salah satunya. Ada beberapa rumpun bunga di halaman pastoran gereja yang membawa ingatan saya melayang begitu jauh ke masa lebih dari 30 tahun lalu. Masa ketika hidup belum seriuh ini, dan masalah yang dihadapi hanya sejauh bagaimana menemukan kaus kaki yang lengkap pasangannya, pekerjaan rumah yang belum beres, dasi dan topi yang selalu lenyap saat dibutuhkan untuk upacara, atau bagaimana cara mendapatkan jajanan di tengah himpitan senior-senior yang berebutan di kantin sekolah. Salah satu rumpun itu adalah Turnera subulata Sm. - bunga pukul delapan, white buttercup, sulphur alder, politician's flower adalah sebagian nama lokal yang menyemati anggota famili Passifloraceae, bunga yang masih berkerabat dengan markisa inilah yang memicu ingatan masa kecil saya. Setiap Minggu pagi, di masa-masa hidup yang simpel itu, bunga-bunga ini selalu menguncup saat saya lewati ketika berangkat dan selalu mekar dengan kekuatan penuh saat saya melaluinya waktu misa usai. Jaman itu, angkutan umum masih jarang, apalagi di hari Minggu, pagi-pagi. Kekesalan karena mesti mengikuti misa paling pagi, harus berangkat dengan berjalan kaki dalam keadaan mengantuk dan seringkali disertai perut yang masih lapar, agak berkurang melihat rumpun-rumpun bunga tersebut. "Tunggu nanti pulang, pasti sudah mekar semua, Li", raut wajah Mama yang tersenyum memegang tangan kecil saya bersama-sama menuju gereja. Dan benarlah, seusai misa, saya pasti berjalan pulang dalam keadaan riang sambil sepuas mungkin memandangi kuncup-kuncup tadi bermekaran dengan kekuatan penuh, tepat pukul delapan, setia, tidak pernah ingkar. Kebiasaan itu sedikit berubah, setelah saya pindah lebih jauh, dan kami lebih sering berangkat dengan angkutan umum yang makin banyak. Saya hanya bisa memandangi rumpun-rumpun itu, berbagi senyum dengan Mama sambil menunjuk,"Mereka masih ada, Ma. Mekar, banyak-banyak."
Namun, hampir tidak ada yang tidak berubah di dunia ini, juga di kota sekecil Jayapura. Sang pemilik halaman tempat sang bunga pukul delapan tersebut memutuskan menggantikan rumpun-rumpun itu dengan bambu-bambu halus yang lebih nge-trend saat itu. Saya kehilangan bunga-bunga yang mekar selalu tepat waktu, tanpa peduli cuaca itu akhirnya. Sampai akhirnya bahkan mulai lupa karena melewatkan waktu mekarnya akibat keseringan bangun terlambat, lantas misa siang sendirian, tanpa Mama yang tetap setia dengan ritual mingguannya. Hari-hari pun berlangsung penuh kesibukan, tidak sesederhana dulu lagi. Dan hari ini, hal-hal kecil itu muncul lagi, hanya karena rumpun bunga sederhana yang berbunga mengikuti jadwal hariannya, tidak lebih, tidak juga kurang. Sempat terpikir, apakah sebenarnya yang menjadi kenangan? Bunga kecil sederhana, sosok Mama yang sabar, atau kenyataan bahwa keduanya selalu ada di sana, setiap Minggu pagi, setia, tidak ingkar, mengingatkan untuk tetap semangat melalui hari yang tidak pernah luput dari perubahan, bersama-sama menyapa Sang Pemilik Hidup karena telah menguatkan dan menunjukkan cinta-Nya? Saya rasa itulah ringkasnya. Hal-hal kecil, tapi dengan kenangan menghangatkan hati, memang mungkin hanya itu yang perlu kita peluk selamanya.
Hari ini, saat kenangan dan rindu makin kental Magnificat

Jumat, 27 Oktober 2017

ADA APA ?

Belum pernah sebelumnya, saya punya keinginan untuk pergi, menjauh, menghilang lenyap tidak berbekas, begitu saja, seperti sekarang ini. Ironis sebenarnya, saat segala sesuatu telah tersedia, tidak kurang suatu apa bila diukur oleh ukuran manusia, justru perasaan ini makin menguat.
Akibat perasaan cintakah? Masih merasa kesepiankah? Mungkin malah keduanya? Atau? Ada apa ?

Hidup, memiliki hati, yang dipenuhi cinta,
bahkan sementara sedang ditunggui oleh yang dicintai,
seharusnya sudah lebih dari cukup untuk membuat sibuk segala pikiran dan hari-hari kita tanpa perlu merasakan kusut dan galau, lalu mengapa setiap saat mesti saja ada celah untuk menumbuhkan kekhawatiran sendiri?
Ada apa sih ini?

Apakah karena dari awalnya sudah ada tembok kaca tebal yang membatasi kita,
ada dinding mahatinggi tak terlampaui memisahkan kita,
dan jarak tak terseberangi yang menjauhkan kita?
sementara tiap saat saya berusaha mengabaikannya
dan menafikkannya atas nama perasaan?

Cinta itu anugerah? Atau dosa? Atau apa?
Mengapa cinta yang indah itu bisa begitu membahagiakan,
sekaligus begitu menyakitkan?
Mengapa mengasihi dan menyayangi harus berarti bersiap untuk berkorban,
memberi sekaligus menerima, segala hal seringkali yang tidak bisa kita elakkan?
Dan mengapa sebuah senyum harus begitu lekat dengan air mata?

Seumur hidup saya belajar,
banyak pertanyaan mungkin bisa muncul tanpa pernah bisa dijelaskan,
seperti apa yang sedang terjadi sekarang.

Sampai kapan ? Lantas untuk apa lagi?





Sekali ini, saya menyerah...

Senin, 16 Oktober 2017

Menjaga Hati

Hati,
sering tidak bisa memilih,
apa yang akan tumbuh di dalamnya,
masuk ke dalamnya
atau keluar darinya...

Entah cinta,
atau benci,
atau perasaan apapun,
punya peluang besar untuk menempati sang hati

Tergantung pilihan kita masing-masing.

Dan saat ini,
saya memilih membiarkan CINTA
untuk menempatinya.

Semoga Tuhan membantu saya menjaganya....




Terima kasih untuk perasaan ini,
tapi sungguh,
ijinkan kami tetap berada dalam jalanMu
Amin

Sabtu, 22 Oktober 2016

ADA Yang Masih Tersisa

Mati suri selama berbulan-bulan, sekali siuman, hidup, dan langsung bergelut kembali dengan maut.
Kadang hidup melebihi ironi yang paling lucu, yang sudah tak bisa lagi mengundang tawa saking menggelikannya.
Menyenangkan, melegakan, sekaligus teramat menyakitkan untuk tetap dinikmati.

Kemarin, seorang pergi setelah yang lain tiba. Kembali, yang tertinggal berupaya membebat lubang-lubang hatinya dengan rapat, sekali ini tak boleh ada angin basah atau dingin hujan merembesinya. Senyum dan tawa mungkin bisa menambal kerut-rapuh di wajah, tapi sekali lagi, segala sesuatu tidak akan pernah sama lagi. Menumpulkan indera, menjilat luka, menelan derita, dan kali ini tanpa air mata, hanya pengertian sarat makna.

Seperti kata seberkas cahaya di pagi bermendung gelap tadi pagi,
ADA yang telah dilemparkan ke dunia, dan betapapun akan tetap terus menyala
ADA yang lebih panjang, lebih lebar, lebih dalam dan lebih tinggi, dan tetap tanpa batas,
ADA yang selalu begitu luar biasa, tapi jarang kita sadari
ADA yang datang dan pergi, tapi selalu ada yang tinggal
Sampai kita sendiri duduk mendiamkan diri, dan disapanya.




Hidup,
Menjalani kenangan penuh didikan,
Dalam cinta padaNYA
Terima kasih.
Amin.


Untuk P.A.S. a.k.a.Mas Bro AR di Rabu, 19 Oktober 2016,
May Jesus bless you always.

Senin, 29 Februari 2016

Spinning around

I found another revelation today, that I know it will be in my mind forever.
Life is so unique for each of us, it can never be predicted.
It always begins with a wonder, full with challenges, obstacles, solutions and surprises,
never be so dull and daunting for us.

I counted days, when I kept all the storms in my head and the tempest twisting around in my heart.
I tried to remember the last time I felt the similar hurricane, while I was dancing in the rain,
smiling in wet and freezing hug of gloomy days
then I know, this would be perfectly the same situation, with different people and different occasion
but I believe, this time I would see another miracle again.

Life can never be so mean, when we learn how to be grateful for what we experienced.
Joy or sorrow, ease or hardship, all would happen on us for reasons.
Keep the love in your heart, live, and never give up.



"Ask and it will be given to you; seek and you will find; knock and the door will be opened to you."

Rabu, 13 Agustus 2014

Adakah jawaban?

Telah lama ku melupakan bagaimana caranya membaca,
lantas ku tak mampu lagi mengerti bagaimana harus menulis,
semuanya tiba-tiba menjadi kabur dan kaku

Sekali ini ku mulai belajar mendengar,
tapi semua yang kudengar membuatku ingin menjadi tuli
Lalu ku mencoba berbicara,
dan semua yang terujar memaksaku menjadi bisu
Ku memaksa untuk sekedar melihat,
ternyata semua yang tampak malah mengharuskanku buta

Akhirnya ku hanya berjuang untuk bertahan,
dan sakit ini malah menderaku dengan rasa beku.

Bagaimana lagi?





Terlalu nyeri,
ingin mati betul-betul.

R.W.M

Senin, 03 Februari 2014

Hilang rupa

Sore ini waktu hujan mencium atap dengan butirannya, aku merindukanmu
Sore ini waktu bau tanah basah mulai menyesakkan benakku, aku merindukanmu
Sore ini waktu angin sejuk memeluk daun pepohonan dan rerumputan, aku merindukanmu

Setiap tiupan nafasmu,
lembut sentuhanmu,
erangan suaramu,
manja tatapanmu,
menggilakanku dengan kerinduan

Sore ini, waktu hujan akhirnya jatuh
dan kesepian tak lagi bisa dihalau dengan segelas kafein dan sepotong gambarmu.

aku - kau
hilang rupa.

Jumat, 31 Januari 2014

Lesson from a wish

It’s been more than a week since I was accepted to be a member of a group of people which involved in strengthening, helping and caring other needless-sick people. I chose to mark that step as one of my precious moments. I remember made a wish to help these people many years ago.
At that time, my close friend had reminded me about all the problems, obstacles and consequences which would come after my decision. As usual, my compassion moved beyond my logic and prediction and I still agreed with the idea and let the wish forgotten.

Nowadays, the wish finally become real through unpredictable events and people, then I know how my life is so affected just like my friend told me. Some important consequences I should overcome are about completing knowledge and keeping secrets. Completing information gaps on the data and facts might not be a problem but continuing secrecy of the information afterwards become a crucial thing. It’s look like I begin to walk on a different world, see with different eyes, and try to think many complicated things.
It seems that I should learn to be a different person at any time when it’s needed. For me, life will never be the same as before again.

I figure out that sometimes we can’t trust our own reflection in the mirror. Even though the reflection shows all scars and smiles on our face, only heart knows what is hidden inside. We have various masks to put on our face at various situations. Grinds and laughs when we want to forget our sadness and pain, or anger and tears when we want to hide our weakness and loneliness.
I learn that we can never lie to ourselves though we can hide away from other people. Just be honest to our own heart and we can be safe. People may judge us from our appearance and problems, but they don’t have rights to decide our happiness in the future.
I also learn that even though sometimes it’s hard to leave our past and we want to give up today, but still we can dream for tomorrow. The helping hands will never end and there will always be a light for everyone who wants to survive in their journey.


(pict. from http://thumbs.dreamstime.com-7969052.jpg)

I slept and dreamed that life was a joy
I awoke and saw that life was a service
I acted and behold, service was a joy
(R. Tagore)

You let me choose this way, O Lord,
I beg You to be with me always.



Kamis, 16 Januari 2014

RITUAL

Dua kali sehari, tidak, sesungguhnya empat kali sehari, waktuku kaukuasai dengan ritual yang awalnya menjadi milikmu seorang. Dulu, sempat hilang kata-kata saat kuketahui kondisi yang mengharuskanmu hidup dalam ritual wajib ini.

Satu dari total tujuh, kemudian dua lagi,
lantas satu, lalu tiga lagi pada akhirnya.
Teratur, terus berjalan seperti jarum detik-menit-jam yang berputar,
dan ikut mengatur ritual hidupku.

Di manapun kita berada, sedang apapun kita,
dalam keadaan bagaimanapun kita,
ritual ini mengatur semua kebiasaan kita.
K i t a ?
Entahlah, mungkin untukmu ritual ini sudah sebiasa menarik nafas dan mengedipkan mata.
Untukku, sama dengan menghitung waktu untuk siap menerima
saat kau memintaku merelakanmu menjalani ritual ini dengan orang lain.

Empat kali sehari aku diingatkan untuk bersyukur masih bisa menemanimu,
meredam rasa sakit dan pedihku saat kau menjauhkanku,
menjajari langkahmu meski sering kau meniadakanku,
memaksaku untuk tetap sadar di mana posisiku sebenarnya.
Ironisnya, ritual ini kerapkali jadi satu-satunya jembatan yang menghubungkan jarak kita,
dan mampu membuatku berani untuk bertahan.

Di manakah aku nanti? Saat kau memintaku untuk pergi?
Kuatkah aku bila waktu itu tiba? Ke mana lagi aku kan bersembunyi darimu?
Bisakah kau membantuku menjawabnya?

...

Kita pernah berkelakar untuk menuliskan bagian-bagian hidup kita untuk diketahui orang lain,
maaf, aku seorang yang berada di luar lingkaranmu,
jauh dari yang sesungguhnya paling berkepentingan,
yang memulainya duluan.



“...ku masih di sini...”

Rabu, 08 Januari 2014

Keracunan Kopi

Menemukan hidup lewat hal yang mematikan, mungkin sering menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Mengubah bisa mematikan menjadi obat yang menyembuhkan atau membalikkan kenyataan pahit menjadi suatu berkat, bisa jadi merupakan dua contoh sederhana yang kerap mengingatkan kita bahwa segala sesuatu bisa berbeda efeknya bila dilihat secara berbeda pula. Segala sesuatu punya dua sisi yang sangat lain yang tetap bisa diambil hikmahnya.
Segelas kopi siang ini, di kepahitan dan gelapnya, memaksa saya untuk menuliskan sebuah catatan tentang bertahan hidup.

Saya mengenal seseorang yang mengajarkan banyak sekali hal penting dalam rentang antara kehidupan dan kematian. Menyapa kelahirannya, terlibat dan jatuh-bangun pergumulannya hingga keberaniannya untuk hidup menyongsong akhir. Segala kelemahannya begitu telanjang, ketakutannya begitu jujur, semuanya terjalin erat, bergantian dengan tiap tawa dan senyuman yang penuh keberanian dan kekuatannya untuk bertahan. Ada banyak sekali pelajaran berhamburan di sekitarnya.

Belajar untuk bersabar, belajar untuk mengasihi dan memberi tanpa pamrih, belajar untuk selalu bersyukur dan berbahagia dalam keadaan apapun juga, belajar menyayangi dan mencintai dengan hati dan tangan selalu terbuka,
serta belajar melihat segala sesuatu dari sisi yang berbeda.

Menakjubkan? Ya. Menguatkan? Tentu. Membawa berkat? Pasti.
Dan itu datang dari seseorang yang sangat biasa. Yang hebatnya, kadang lupa akan kemampuannya mengajarkan itu semua.
Dirimu? Ya.
Yang suka keracunan kafein seperti saya, hanya dengan kadar lebih rendah.
Terima kasih,
sudah mengubah racun bisamu menjadi obat hari-hariku,
dan mengajariku bahwa ada banyak cara
untuk mengatasi kematian dengan kehidupan.

Menimba air kehidupan, tak mesti selalu dari seberkas mata air sejuk
Secangkir kopi pekat terkadang lebih perlu untuk mengingatkan,
Bahwa hidup mungkin terasa pahit, namun ada rasa manis yang bisa menyapa di ujungnya
Atau hidup mungkin seringkali tampak gelap, namun warna hitam itu dasarnya gabungan dari seluruh warna.



Untuk seorang yang kukasihi,
Selalu ada jalan keluar, sampai kapanpun,
selama kau memutuskan untuk tetap hidup dan terus mencintai.

Senin, 30 September 2013

Mencari jalan pulang

Belum pernah rasanya serindu ini,
seperti seorang kekasih merindukan belahan jiwanya,
atau seorang ibu tua merindukan anak terkasihnya yang pergi jauh,
atau seorang pesakitan sekarat merindukan separuh nafasnya untuk tetap hidup
saya merindukan jalan pulang

Saat ini, waktu
satu melengkapi, dan dua justru melenyapkan...
Saat ini, waktu
kejujuran membisukan, dan apa yang tampak semakin mematikan...

tak perlu lagi hati dan jantung dari batu
saat semuanya telah tersingkap

tersesat,
sekali lagi,
saat langit tak bisa lagi runtuh
dan bumi tak bisa lagi berguguran...


rindu sekali
p u l a n g
cahayaku
masih adakah jalanmu?

(foto: dari halaman rumah sesosok cahaya, 30-12-2012)

Kamis, 29 Agustus 2013

KEKEKALAN

Perubahan adalah satu-satunya yang abadi.
Jadi bila suatu saat, ada cahaya lain menembus ruang-ruang jiwamu,
terimalah dan rasakan kehangatannya untuk menerangi ruang-ruang jiwa lainnya…


Lebih dari sepuluh tahun lalu saya mendapat kalimat-kalimat ini sebagai hadiah perpisahan yang begitu indah,
begitu membekas dan tidak pernah hilang maknanya setelah sekian lama.
Menghidupi perubahan dan berubah untuk tetap hidup, memang betul-betul menghidupkan.
Seringkali kita mengalami
Mencintai dengan sangat biasa,
seperti jantung membiarkan udara merenangi ruang-ruangnya
Menyayangi dengan sangat wajar,
seperti mata mengedipkan kelopaknya tanpa perlu diperintah
Mengasihi dengan sangat ringan,
seperti setiap gerak refleks seluruh tubuh tanpa perlu disadari
dan ajaibnya lagi
kadangkala kita tidak khawatir apabila kondisi-kondisi itu berubah,
lambat - perlahan, drastis, dalam kadar dan jumlah yang berbeda-beda.

Seorang teman pernah bertanya,
kalau kita sudah sampai tahap seperti itu,
apakah lantas hati kita sudah terbuat dari batu?
ataukah kita sudah begitu tidak berperasaan
sehingga membiarkan semuanya terjadi,
dan kemudian bisa baik-baik saja ?

Saya rasa tidak,
setiap orang diciptakan untuk banyak tujuan dan maksud
untuk bertahan dalam beragam kondisi,
berkembang dalam beragam proses,
dan kalau yang bersangkutan percaya bahwa hidupnya adalah pusat perubahan
dia, jiwanya, tidak akan pernah bisa mati
demikian juga perasaan dan cintanya.

Bercermin pada pengalaman masa lalu,
Bertujuan pada harapan masa depan,
Atau sekedar bergumul pada kenyataan hari ini,
memelihara kita untuk bertahan menghadapi setiap perubahan.






HIDUP kembali
dan terus JATUH CINTA lagi
Penuh senyum,
ringan.