Tampilkan postingan dengan label S u r v i v e. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label S u r v i v e. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 November 2024

Tidak Pernah Usai

Berdoalah dengan tidak jemu-jemunya, karena pertolongan Tuhan dan jawaban doa kita biasanya melalui proses, “segera” itu adalah sesuai waktu dan rancangan Tuhan, bukan manusia. Meski berkali-kali kita memintakan yang terbaik menurut kita, kita tidak pernah mengerti rancangan dan jalan seperti apa yang tersedia untuk kita jalani pada akhirnya.

Kalimat itu menjadi pengingat yang terus-menerus berulang dalam minggu-minggu terakhir di tahun 2024 ini. Doa, berpikir tentang doa, berbicara dan berbagi sesuai doa-doa yang dipanjatkan, atau selanjutnya bertindak sesuai harapan dan impian yang kita doakan, seringkali berubah-ubah, sangat dinamis dalam perkembangannya. Saya menemukannya berkali-kali sejak memutuskan untuk kembali ke Manokwari, berkunjung, atau pulang ke rumah sendiri setelah lama ditinggalkan. Hampir 10 tahun yang lalu saya memutuskan membeli rumah ini dengan tujuan utama setidaknya mengurangi resiko kenaikan uang kos atau kontrakan yang bisa terjadi setiap tahun. Juga untuk memuaskan keinginan memiliki barang-barang pribadi tanpa direpoti pendapat orang lain. Ada banyak alasan lain juga, tapi yang pasti, waktu berlalu dan semua alasan yang tampaknya bagus, baik, sempurna itu sudah tidak penting lagi. Semua berubah, ada yang drastis, ada yang perlahan, beserta segala konsekuensinya.

Di tahap ini, saya kembali dihadapkan pada kewajiban untuk mencari arah baru, posisi dan status yang harus saya terima dan pahami sebagai bagian untuk keluar dari zona nyaman. Yang ajaibnya, adalah cara terbaik untuk tetap bertahan hidup. Saya benar-benar harus pindah, belajar menjadi sangat iklas, ringan tanpa beban, penuh senyum mulai melepaskan segala yang tampaknya lebih diperlukan pihak lain, sembari membuang yang tidak penting dan membawa hanya yang paling dibutuhkan.

Pulang ke rumah sendiri, kali ini menjadi masa belajar berdamai dengan semua situasi dan kondisi, memilih dengan banyak prioritas dan peluang, memanfaatkan segala kesempatan serta bersyukur atas semua orang dan waktu yang tersisa. Refleksi yang ramai, padat kesan dan serasa tidak habis-habisnya.

Saya akhirnya mengetahui antara lain, 1) tubuh saya tidak selalu sekuat nafsu dan semangat saya, 2) dukungan doa, waktu, tenaga, niat dan orang-orang adalah kumpulan faktor yang teramat penting dalam membereskan rencana yang awalnya terlihat mustahil, 3) selalu wajib ada banyak alternatif rencana untuk menjaga proses tetap berjalan, dan lain-lain, sampai ke hal yang ke x) kita perlu berhenti sejenak kalau itu memang diperlukan. Saya menemukan, bahwa kesempatan hidup ini jadi gabungan beberapa perjalanan, kegiatan, istirahat yang tidak jauh-jauh dari unsur hilang, ketemu yang hilang, menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, berusaha beberes dan bebenah, supaya semua bisa jalan meski kadang tidak sesuai rencana, dan bersyukur saat tiba di titik pencapaian.
Gambar-gambar yang ada dalam postingan ini sebenarnya hanya merangkum kisah—kisah pendek dari rangkaian kejadian belakangan ini. Saat beberes rumah yang sekian lama ditinggalkan, saya akhirnya menemukan GPS lama, alat yang berkali-kali saya minta bantuannya untuk dicarikan oleh penjaga rumah saya supaya saya bisa menggunakannya untuk penelitian saya yang lalu. Berkali-kali dicari tidak ketemu, tetapi langsung ketemu saat saya membuka laci lemari buku yang sudah usang. Dalam keadaan sangat prima, meski saya sempat khawatir ada gangguan akibat saya lupa mencabut baterai selama penyimpanannya. Fix, si GPS seperti berpesan semua baik-baik saja, siap menentukan posisi dan arah ke depan, di manapun ia digunakan nanti. Sungguh suatu refleksi yang #sotoy
Kisah selanjutnya, saya yang selama ini selalu parno dan punya bakat semi OCD, akhirnya berani dan bisa menerima hasil tidak sempurna dari dapur darurat saya. Dan di atas meja makan merangkap meja kerja dan belajar saya akhirnya tersaji secara lengkap semua ini; sup ayam seadanya yang luar biasa pedas karena ketumpahan lada bubuk sebungkus sementara saya lupa sudah menggunakan jahe beberapa ruas untuk merebus ayam, nasi dingin yang sekali ini bertempat dalam gelas plastik tetangga, ditemani bunga-bunga di dalam kain taplak pemberian. Ini memang bukan cerita soal makanan saja, tapi dengan segera mengingatkan seperti apa perasaan belakangan ini, di mana sebenarnya diri harus berada. Di tempat sekolah, di tempat bekerja, atau di tempat (harapan-impian) domisili. Terlalu kusut.

Ada lagi aroma pindahan yang kental, yang baru bisa saya terima dan jalani setelah penyakit lama beres dari kambuhan. Sesak napas, asma, sakit kepala, demam hingga pegal seluruh tubuh, gangguan yang kelihatan dan tidak, menemani setiap upaya memilih barang dan packing. Membereskan barang jadi berasa ke membereskan isi kepala dan mengatur isi hati. #lebay dan sedikit #gombal memang, tapi refleksi ini sangat terasa. Karena setiap barang yang lewat dan tersentuh, punya cerita masing-masing, menyangkut orang, masa dan kenangannya. Bahkan suasana fajar dan senja, semua berebutan untuk dilihat dan dikenang.

Hidup, sekali lagi, menunjukkan betapa berliku dan jauh perjalanannya. Hanya dengan rasa beryukur dan merasa terberkatilah semua bisa kelihatan mulus dan penuh cahaya. Mungkin tidak kelihatan teman, tapi pada dasarnya selalu saja ada yang memperhatikan, dan mengarahkan. Karena setiap sakit atau nyeri, bahagia atau senang, doa dan keluhan, setiap permintaan atau setiap usaha, apapun mestinya tidak pernah sia-sia bila disyukuri.

Postingan ini sebenarnya ditulis berdasarkan refleksi tentang kisah seorang hakim yang menyerah pada "gangguan" permintaan tiada akhir dari seorang janda, sesuai bacaan liturgi Sabtu, 16 Nopember 2024. #mencariarah #bukansoalmakanan #transisi #movingforward #bertahan #pulang #bukandimana-mana

Selasa, 08 Oktober 2024

Selalu Ada

Dalam setahun ada satu bulan yang membawa perasaan paling campur-aduk bagi keluarga besar kami. Bulan Desember, bulan paling akhir, bulan paling sibuk dibanding bulan-bulan lain sepanjang tahun sekaligus bulan paling penuh dengan kenangan yang harus diterima, entah kadang masih terasa menggetirkan, atau justru menggetarkan hati. Dan saya ingin berbagi cerita ini pada bulan Oktober, dua bulan sebelumnya, seakan mempersiapkan diri untuk memilih posisi perasaan apa yang harus saya jalani pada saatnya tiba.

Bulan Desember diawali dengan kenangan kepergian lelaki paling penting dalam hidup saya, Papa, yang meninggal dengan tenang setelah sakit dan dirawat beberapa waktu lamanya. Kondisi yang disembunyikan dari saya karena saat itu saya sedang mempersiapkan diri untuk ujian akhir semester SMA di tanah Jawa. Kenangan getir, karena saya baru bisa pulang mengunjungi makamnya di Jayapura 2 minggu setelah kepergiannya, saat ujian saya sudah usai. Menjadi yang terakhir tiba di rumah untuk mengenang beliau, adalah batu pemberat pertama yang mengisi kantung hati saya yang kecil ini, yang saya bawa ke mana-mana, bertahun-tahun setelahnya.

Tahun berlalu, sampai pada bulan Desember ke-sekian, sosok lelaki terpenting berikutnya juga harus pergi untuk selamanya. Satu-satunya kakak laki-laki kandung yang saya punyai harus menghadap Tuhan setelah dirawat akibat penembakan oleh mantan staf di LSM kesehatan tempatnya bekerja. Berpulang sendirian di tanah orang, benua yang jauh dari tanah kelahiran, di akhir bulan Desember. Kali ini benar-benar kegetiran yang menggetarkan hati karena begitu banyak kejadian, drama, rahasia yang terungkap ikut mewarnai kepergiannya, sekaligus mengantarkan kepulangannya dari Addis Ababa ke Jakarta saat itu. Batu kecil berat berikutnya menempati posisinya dalam kantung hati saya lagi.

Dua kenangan yang mengawali dan menutup bulan Desember itu sempat membuat kami semua yang ditinggal mesti rajin-rajin menguatkan diri, menegarkan hati dan mencari hikmah terbaik untuk saling memberi penghiburan lantas hidup terus. Kami mesti menjalani cara kami masing-masing untuk bisa melepaskan dengan iklas, menerima dengan penuh syukur bahwa itulah jalan terbaik dariNya.

Akhir bulan Desember beberapa tahun sesudahnya lagi membawa kenangan menggetarkan lainnya. Mama jatuh dan mengalami patah tangan, digips dan harus beristirahat hanya sehari sebelum malam Tahun Baru. Kecelakaan di dalam rumah, di satu-satunya tempat yang kami percayai sebagai tempat teraman baginya di masa tua. Berlanjut dengan penurunan kondisi berbulan-bulan karena cedera tangannya, Sayangnya, cedera itulah yang menemani beliau sampai berpulang menjumpai kekasihnya. Saya kembali kehilangan pelukan terakhirnya karena baru bisa tiba sehari setelah kepergiannya. Sekali ini rasanya batu besar dan berat yang berguling cepat masuk dalam kantung kecil hati saya.

Tidak sampai tiga tahun setelahnya, ada kenangan baru yang menyusul. Seorang kakak saya mengalami gejala tumor, yang disadari dan diketahuinya pada bulan Desember pula. Tumor ini berkembang menjadi kanker, mengganas dengan cepat dan hebat, lantas mengisi hari-berbulannya dengan penderitaan nyaris tak tertanggungkan. Menangis dalam diam, kehilangan keceriaan, kesulitan tidur dan beristirahat, memaksanya mengiklaskan rambut tebal dan lemak-daging di tubuhnya adalah sebagian pengalaman yang harus ditanggungnya, dan harus kami saksikan setiap hari. Menemaninya melewati masa-masa sulit dan penuh kesakitan, persis seperti merapel sekaligus jalan salib berulang-ulang, masa prapaskah dan masa adven berturutan, selama berbulan-bulan sampai kepergiannya. Saya tidak berani mengingat tambahan batu-batu kecil yang bergiliran masuk ke dalam kantung hati saya, rasanya kantung itu makin sesak keberatan, bahkan siap robek.

Sebelum seluruh kejadian itu, bulan Desember adalah bulan yang selalu menyenangkan, penuh suasana persiapan menyambut Natal dan libur akhir tahun. Suasana beraneka macam ada di rumah, di gereja, di sekolah, di kantor, di mana saja di tanah Papua, dan kadang kalau sedang di luar Papua, suasana liburan akhir tahun akan tampak jelas di pusat-pusat perbelanjaan. Bulan Desember penuh dengan segala kemeriahan, harapan, perjumpaan, semangat berlatih menyanyi, berbagi dan juga melayani. Senyum, tawa riang, kegembiraan, dan riuh keramaian selalu ada.

Tapi sekarang, semua hitung mundur menuju bulan Desember membawa rencana, cerita dan perundingan sendiri di dalam kepala. Posisi mana yang harus saya lewati untuk sampai pada fajar pertama di tahun berikutnya, bila saya masih diijinkan sampai ke sana…

Dan ajaibnya, belakangan ini saya menyaksikan kenangan-kenangan baru yang berbeda untuk bulan Desember, ada kakak yang berupaya mempersiapkan Natal jauh sebelum masa adven, ada usaha keras ponakan dan semua anggota keluarga untuk bisa mudik dan merayakan kebersamaan selama bulan Desember dengan sebisanya, ada banyak pengalaman mengubah diri, berbagi dan melayani yang terus ditambahkan setiap tahunnya. Semua usaha yang diupayakan agar bulan Desember bisa menjadi penutup tahun dengan dipenuhi syukur, rahmat dan sukacita.

Memilih sibuk dengan kepahitan dan kenangan buruk, hiruk pikuk isi kepala dan hati, respon orang lain dan masalah duniawi, atau duduk tenang, mendengarkan dan merasakan sampai di mana dan mau ke mana kita dituntun oleh suara hati dan kebaikanNya. Kita tidak bisa memilih seperti apa takdir dan memaksa nasib kita selalu ramah, tapi kita bisa menyikapinya dengan sebaik-baiknya, sebenarnya hanya kita yang dikaruniai nasib dan takdir seunik ini.

Karena semua kenyataan tentang hidup ini, entah keberadaan, keberlangsungan dan kepergian, dengan cara apapun, akan SELALU ADA. Kita tidak bisa menghindari dan melarikan diri sejauh apapun.

Sekarang, seringkali kantung kecil di hati itu masih terasa sangat berat, selama saya membiarkannya tetap berisi batu pemberat yang menguji saya melangkah lebih jauh. Tapi setiap waktu pula, saya ingin merubahnya menjadi bunga-bunga yang mengharumkan-menyenangkan hidup, atau sayuran-buah yang menyehatkan tubuh hati pikiran, meringankan langkah ke depan. Mungkin saya, juga orang lain bisa ikut merasakan pengaruhnya.

Selalu ada waktu untuk menentukan pilihan dalam menghadapi masalah dan menjalani hidup, dan pilihan kita sendiri yang akan menentukan akhirnya.

Refleksi dari bacaan hari ini Galatia 1:13-24 dan Lukas 10:38-42

Gambar 1-2 di GKI El Elyon Kotaraja ("El-Elyon" - "Tuhan Yang Maha Tinggi"), Gambar 3 di Klinik Medika Jayapura, Gambar 4 di Saga Mall Abepura.

Jumat, 27 September 2024

Dalam Selembar Foto

Sampai hari ini, sudah hampir dua minggu saya merasa tidak bisa cukup tidur pada malam hari. Bukan hanya karena selalu terbangun pas jadwal jaga air PDAM, tiga kali seminggu yang seringnya lewat tengah malam dan bikin susah tidur kembali, tapi sepertinya saya kena gangguan tidur. Hal yang paling saya khawatirkan selama ini, karena bagi saya, tidur cukup adalah obat pertama dan terbaik untuk setiap masalah saya. Saat kepala berat berpikir, atau badan greges; panas-dingin tidak nyaman tanpa tahu penyebab, atau saat migren dan badan pegal-pegal; yang makin sering terasa sejak beres operasi, saya pasti memilih tidur lebih dahulu sebelum mencari obat. Tapi sekarang semua itu makin sulit. Saya hanya bisa berupaya menanggungnya dengan menambah tidur di pagi atau siang saat lelah sekali, banyak minum air putih dan stretching, atau banyak jalan santai di sekeliling rumah emak yang besar ini.

Efek lain yang tidak bisa dielakkan akibat kurang tidur adalah menjalani hari dengan perasaan melayang dan kadang-kadang merasa sedikit halu. Perjuangan untuk mencapai konsentrasi akhirnya menjadi santapan harian rutin. Kadang saya membuat selingan, agar bisa mengalihkan fokus dan menyegarkan badan dan isi kepala. Dan anehnya, keinginan untuk mengerjakan selingan ini, selalu muncul begitu saja, tanpa rencana. Setiap kali, saya berupaya tidak menolak menghindarinya sesuai pesan pastor pembimbing rohani saya, Latih Kepekaan dan Rendah Hati, bersiap menerima dengan iklas dan sukacita atas apa yang akan muncul setiap saat.

Pagi ini saya mendapat dorongan untuk latihan vokal sendiri, menyanyikan lagu Pada WaktuNya (Henry Sutjipto) keras-keras di dalam rumah. Berulang-ulang sampai lelah sendiri. Lagu ini saya pilih karena kebetulan bacaan liturgi hari ini pas temanya sekaligus perikop favorit saya. Saya melanjutkannya dengan membongkar koleksi buku-buku tebal berdebu dalam karton di gudang menjahit emak. Saya menemukan beberapa buku yang, waaah, memang selama ini saya cari, dan saya bahkan tidak ingat ada dalam koleksi beliau. Di atas meja, sambil bersiap sarapan, saya membersihkan buku-buku itu dan membukanya satu-persatu, menemukan banyak sekali harta karun. Saya baru ingat lagi, kalau keluarga besar saya punya hobi berat membaca, semua punya genre berbeda, dan selalu bikin rumah susah rapi karena banyak buku-buku yang terletak di mana-mana, meski sekarang sebagian besar sudah di dalam kardus-kardus di gudang.

Harta karun paling indah yang saya temukan adalah begitu banyak foto keluarga dan kerabat serta kartu-kartu ucapan hari raya yang dijadikan pembatas buku. Begitu banyak kenangan yang disimpan rapi di antara lembar-lembar sarat gagasan di buku-buku tua koleksi emak saya itu. Dan ada satu lembar foto yang menghentikan semua kesibukan saya, membuat air mata saya langsung jatuh

Ini adalah foto kenangan saat saya masih kuliah, awal tahun 1996, semester 2, diambil di Taman Koleksi Kampus IPB Baranangsiang, masa damai sebelum jadi pusat perbelanjaan besar sekali di jantung kota Bogor. Wajah-wajah teman-teman yang baru belajar dan berjuang bersama hampir setahun. Segar sekali. Dan saya menemukan foto ini hari ini, dengan mata berkaca mengenang salah satu yang telah lebih dulu pulang dalam pelukanNya karena lupus, seorang lagi sedang berjuang bertahan hidup karena kanker stadium lanjut, seorang lagi sedang bertahan dengan terapi mingguan supaya bisa stabil kondisinya, seorang lagi benar-benar hilang kontak, dan saya sendiri dengan pergumulan hidup saya. Waktu telah memelihara dan memaksa kami melangkah begini jauh

Selembar foto, menimbulkan segala rasa, saling bertolak belakang, tentang rumitnya hidup masing-masing, banyak sekali kenangan, kerinduan, rasa bersalah, dan harapan ikut muncul. Foto ini, bercerita dan mempertanyakan dalam diam, tentang penyelenggaraan Tuhan, tentang relasi dengan orang lain dan dukungan lingkungan sekitar, juga tentang seluk-beluk kehidupan semua obyek di dalamnya. Bagaimana jalan kami berbeda-beda setelah terpisah dan masih terus berjuang untuk mencapai tujuan akhir yang sama nanti, entah kapan. Mengharukan, karena saya ikut memperkirakan pembatas buku berupa foto adalah bentuk kesediaan seorang almh emak mendoakan anaknya setiap kali beliau temukan ketika buku-buku tua ini beliau buka dan baca.

Satu hal yang pasti, bukan hanya sedih dan terharu, tetapi rindu juga akan selalu ada hanya karena foto selembar ini.

Refleksi hari ini, setelah berjumpa, membersamai dan mengingat banyak orang dan rasa melalui selembar foto. (Pengkhotbah 3:1-11 & Lukas 9: 18-22)

Yang ada di dalam foto (ki-ka): saya, Ellyn Katalina Damayanti (semoga bisa bertemu), almh Tiur Helen Rosmawati Aritonang (Wete, damai di surga e sist), Doris Marsintauli Pardede (peluk paling hangat, erat dan penuh sayang untuk dirimu, pejuang tangguh), dan Wulandari Dwi Utari (salam sayang juga untukmu, jangan menyerah ya Lil), Semoga Tuhan menjaga kita semua. Amin.

Rabu, 18 September 2024

Survei Tokoh

Dari sekian banyak hasil pencerahan sejak pertama kali membuat blog ini, kali ini saya ingin memulai suatu perjalanan baru yang selalu saya impikan sejak lama. Perjalanan yang berawal dari titik nol, untuk terus menjadi kosong, supaya selalu ada kesempatan untuk terisi sejenak, bernafas dan bergolak hidup, lantas mengalir untuk mengosongkan diri lagi, untuk bersiap mengalami terisi kembali. Berangkat dari, selalu berada, terus berjalan dan bersemangat menuju titik nol. Mungkin tidak banyak yang berminat membaca, tidak apa, karena keinginan saya hanyalah berbagi, dan saya sangat memahami, apa yang dibagi tidak selalu menjadi bagian yang diharapkan. Saya ingin memberikan ruang untuk kerinduan, kegelisahan sekaligus kelegaan karena penerangan dalam kekusutan di dalam kepala di laman-laman postingan ini, berdasarkan pengalaman batin dan iman saya. Dan kali ini, saya memulainya dengan naskah yang menarik minat saya saat pelatihan sebelumnya. Bisa dibaca di postingan sebelum ini. Bukan renungan lengkap, tapi hanya ilustrasi yang meminta kita masing-masing mengambil kesimpulan sendiri untuk hidup kita.

Setiap orang yang pernah menjadi peserta suatu kegiatan, dengan materi yang banyak dan beragam, pemateri yang punya gaya menyajikan yang unik, didukung dengan segala jadwal kegiatan yang padat dan difasilitasi dengan panitia yang berdedikasi pasti membutuhkan evaluasi pada akhirnya. Bukan tanpa maksud, tapi sebagai dasar untuk perbaikan dan pengembangan di kesempatan berikut, karena, pastilah, setiap kegiatan yang melibatkan banyak orang, kerja keras dan dana memerlukan penghargaan dan pencapaian tujuan. Evaluasi ini muncul dalam bentuk penilaian, terutama dari peserta yang belajar menilai sendiri, apa saja yang mereka alami dan bisa mereka bawa pulang dari kegiatan ini. Bila penilaian atau survei dialkukan di awal, saat peserta mendaftarkan diri untuk ikut kegiatan, bisa dipastikan tidak ada item yang bisa dijawab pada lembaran penilaian atau survei tersebut, karena belum ada pengetahuan lengkap mengenai semua komponen kegiatan untuk dievaluasi. Para peserta memerlukan waktu, perhatian dan kesempatan untuk mengikuti kegiatan agar mampu menyelesaikan pengisian survei tersebut. Kondisi yang sama berlaku pada pelatihan yang saya bagikan dalam postingan kemarin. Sebuah survei dilakukan untuk menilai semua materi, pemateri, rangkaian dan kesan-pesan.

Mengikuti pelatihan seperti ini, yang saya anggap religius dan berkesan berat, selama ini tidak pernah saya ikuti tanpa ada kewajiban seperti pada saat jaman masih sekolah dulu. Pelatihan yang melibatkan hati dan pemikiran sekaligus seperti ini, melibatkan banyak orang yang saya yakin jauh lebih banyak pengalaman iman, untuk saya yang sifat dasarnya sangat introvert, selalu memicu ketakutan dan kekhawatiran dalam diri saya. Banyak "apabila", "jangan sampai", "mungkinkah" yang membuat saya overthinking dan maju mundur. Kali ini, ada hal yang berbeda. Informasi mengenai kegiatan ini saya peroleh dari flyer salah satu grup WA, dimana saya menjadi anggotanya karena harus menggantikan kakak terkasih yang sudah berpulang dua tahun lalu. Seperti biasa, saya selalu tidak pernah berminat berinteraksi dalam grup WA di mana saya dimasukkan menjadi anggota oleh orang lain. Menjadi stalker sejati dan memantau keramaian dalam grup adalah kebiasaan saya. Namun, hampir dua minggu lalu, flyer pengumuman ini masuk, saya membacanya, dan langsung memutuskan ikut, segera menghubungi panitia, mendaftarkan diri dan menyelesaikan segala urusan administrasi. Hanya ada kesan bahwa tema yang disajikan semoga bisa mencerminkan materi yang diharapkan dan bisa berguna untuk kegelisahan saya selama ini. Mendaftar hanya melihat tema, tanpa memikirkan siapa yang akan menyampaikan materi.

Seiring waktu, saya menjadi kepo, mulai browsing, dan menjadi penasaran setelah membaca profil singkat pemateri dan rangkaian keterlibatan beliau dalam beberapa acara. Saya memperoleh alasan pertama untuk mengikuti acara ini. Dan saya menemukan alasan berikutnya dengan segera, mengapa di bawah sadar saya menginginkan ikut pelatihan ini. Saya lahir dalam keluarga yang campuran dalam hal agama, kami semua seiman, tapi tidak selalu seamin, karena berbeda tempat dan waktu serta liturgi ibadah. Latar belakang keluarga papa dan mama yang berbeda gereja, membawa warisan keimanan seatap namun dengan dua pintu gerbang ke jalan besar yang sama. Kakak beradik menjadi berbagi jalan di tepi sungai air hidup yang sama di sisi berbeda, dan saya sempat merasakan kesepian dalam perjalanan iman sendiri. Terkadang timbul cemburu pada teman, kenalan dan keluarga lain yang selalu bersamaan pada salah satu sisi. Terkadang pula muncul kegelisahan untuk mengungkap apa yang menjadikan saya enggan berpindah dan selalu ingin bertahan pada sisi yang sudah saya pilih. Setelah ditinggalkan oleh kakak yang selalu mengajak gereja bersama, dan jauh dari adik yang sudah mulai memilih jalan hidupnya sendiri, saya menemukan alasan kuat.

Dalam keluarga yang beragam ini memang tidak selalu baik-baik saja, masalah dan tantangan tersedia setiap saat, tapi selalu ada kasih, cinta, perhatian dan pengharapan yang menyatukan. Dan yang selalu teringat sampai sekarang, adalah warisan akan teladan mama, sosok religius, pendoa dan pejuang paling kuat dalam keluarga, orang pertama yang akan bahagia saat anggota keluarganya berhasil dan senang, serta yang paling menderita saat keluarganya susah dan sakit. Sosok yang sangat bertekun dalam doa-doa pribadinya, gigih dan bersemangat dalam segala kunjungan, pelayanan dan apapun yang beliau lakukan dalam gereja, di tengah kesibukannya sebagai ibu dan guru. Pengenalan yang kuat itulah yang menyemangati saya mengikuti pelatihan ini, saya yakin beliau berani bertindak demikian selama hidupnya karena mengenal dan mengalami sentuhan tokoh yang beliau imani sampai akhir.

Survei, penilaian yang lengkap dan pengenalan akan tokoh penting yang mempengaruhi keputusan kita dalam hidup sebenarnya bagian dari renungan dalam Alkitab yang saya dalami kali ini, saat para murid Yesus menghadapi survei Yesus sejauh apa mereka mengenalNya dalam hidup. Survei yang sama yang juga selalu berhubungan dengan semua yang mengakui dirisebagai pengikutNya sampai sekarang. Apakah kita yang masih ada sekarang mengenal Dia, seperti apa, lantas apa konsekuensinya? Masih berani mengakuiNya terus dan menjadikanNya seperti pengakuan kita itu?

Marilah kita terus bertanya, merenungkan jawabannya, dan merealisasikan keputusan kita atas jawaban kita itu dalam hati kita, setiap hari. Yakinlah, untuk itulah kita diberi kesempatan hidup setiap hari.

Cerita ditulis sebagai tanggapan untuk renungan dari Markus 8:27-30

#Disclaimer : Ini refleksi, sepenuhnya hasil perenungan pribadi, bukan bermaksud mengajar, menggurui atau untuk diperdebatkan, semua pengertian, penerimaan atau penolakan harap ditanggung sendiri.

Minggu, 12 September 2021

You should've known

This very early day remind me of you.
Why do you let me know everything from others? Is it too hard to tell me straight away?
You should've know, that I have the right to know it if it's about me.
You should've understand, that I could choose you if you asked me at that time.
I do really hope we still have more time to be honest.
Even so, thank you, you've made my life never be the same again



I think someone
is praying for someone

I think I can softly hear
a love poem that was silently written

It clearly flies over to you
I hope it reaches you before it's too late

I'll be there, behind you when you walk alone
singing till the end, this song that won't end
Open your ears for just a moment
I'll sing for you, who is walking through an especially long night

Once again, in your world
a star is falling

The silently shed tears
are flowing here

In my silent heart that has lost all words
I hear a voice like hearing a memory

I'll be there, behind you when you walk alone
singing till the end, this song that won't end
Take a deep breath
I'll sing for you, who forgot how to cry out loud

(So you can walk again)
I'll sing
(So you can love again)
Here I am, watch over me
singing till the end, I won't ever stop singing this song
On the day your long night is over
when you lift your head, I'll be right there


The poem written above is English translation from IU's song "Love Poem"

Rabu, 07 Juli 2021

Janji

Hingga hari ini, ada satu janji yang seringkali masih sulit saya tepati,
janji untuk selalu hidup bahagia.

Berbahagia menerima kenyataan bahwa hidup ternyata tidak pernah mudah dan selalu penuh kejutan.
Sungguh, kejadian tiap hari bisa berubah lebih cepat dari cuaca hari itu.
Terbangun dan membuka mata dengan senyuman cerah, lantas bersemangat penuh hangat cahaya mentari sepanjang hari, atau justru murung segelap mendung, marah bagai petir dan terduduk penuh kegalauan berurai air mata sederas hujan. Perjuangan hidup setiap hari jadi seperti perjalanan mengarungi langit dan segala isinya, sejuk, hangat, panas, atau dingin membekukan.

Dan satu hal yang paling mengagumkan (atau malah menyedihkan?), setelah semua itu dialami, sekali lagi masih ada hari baru disajikan di hadapan kita, luput dari kendali kita untuk menunda, menghentikan, atau mempercepatnya.
Tidak cukup sekali, sudah tidak terhitung malah, saya mengulangi janji tadi sebagai upaya untuk bertahan hidup. Untuk terus mengingatkan bahwa selalu ada banyak hal tersembunyi yang tidak bisa terselami dari maksud dan tujuan saya masih diijinkan hidup.
Apakah saya akan berbahagia hari ini?
Harus adakah hal atau orang yang membuat saya bahagia hari ini?
Sudah bahagiakah saya sepanjang hari ini?
Masih mungkinkah saya bahagia sesudah hari ini?

Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis catatan harian yang mengungkapkan kesediaan untuk berbahagia ini secara implisit, sambil dengan beraninya meminta Yang Mahakuasa menjadi sumber kekuatan, saksi dan hakim atas kesepakatan ini. Kesepakatan ini, ajaibnya, selalu mewujudnyata di depan mata, tidak pernah berakhir.
Selalu ada berkat dalam bentuk apapun yang tersaji di hadapan saya. Entah dalam bentuk senang ataupun susah, tawa atau air mata, sehat ataupun sakit, kelihatan maupun tidak, semuanya ada dan saling melengkapi.
Tidak pernah terlambat, selalu tepat waktu, tidak terselami untuk pemikiran dan perencanaan saya, bahkan mungkin seringkali berbeda dengan pertimbangan orang lain.

Kalau sudah memilih untuk berbahagia, perlukah menyalahkan diri sendiri bila pilihan itu tidak terwujud? Haruskah juga menimpakan kesalahan pada orang lain atau pada keadaan saat semua berasa meleset dari rencana dan impian? Atau menuduh keadaan tidak cukup adil dan berpihak pada diri sendiri? Pernahkah duduk tenang untuk mengistirahatkan diri, atau mengakui bahwa cermin jiwa tidak selalu jernih untuk memantulkan kepantasan?

Semua orang pernah menderita, dan pasti pernah berbahagia, namun, yaaa, seperti cuaca, tidak ada yang berlangsung selamanya. Ada akhir dari setiap awal. Yang tersisa adalah apa yang akan dibawa sepanjang sisa umur kita; kejumawaan atau kerendahan hati, dendam atau maaf, kepahitan atau kelegaan, kebencian atau penghargaan, ketergesaan atau kesabaran, kutuk atau berkat dan ucapan syukur, rangkaian duri atau berkuntum bunga cantik. Semua kembali pada diri sendiri.

Tepati saja janjimu, dan berbahagialah.
Hidup ini singkat.



Promise

When life gets hard,
and most of the things seem unreachable,
just meet me in the memory that once beautiful, OK?

"So, are you happy now?
Finally happy now, are you?"

Eight, a song by IU ft Suga BTS

Kamis, 04 Maret 2021

ANGKA

Seberapa peduli kita sama makna angka?
Angka yang tertera dan tersirat di mana-mana memang bisa memberikan pemahaman beragam bagi setiap orang. Saya, jujur saja selalu sangat peduli pada angka-angka yang ada dalam sms banking, atau yang berurusan dengan atm dan buku rekening bank. Tapi belakangan ini makna angka bergeser, bukan hanya untuk dipedulikan, tapi dicermati dan diwaspadai; berkurang, bertambah, berapapun, bisa bikin semua siaga. Hitung-hitungan dengan angka, sekarang, bisa sama saja dengan bersyukur dan berjuang untuk tetap hidup.

Saya sudah sangat ingin menuliskan tentang angka ini sejak bulan lalu, bulan yang paling saya cemaskan dalam setahun karena selalu mengingatkan saya akan suatu hal yang tidak bisa saya hindari: mengingat angka, berhitung sisa usia saya. Dan untuk tahun ini, bulan itu memaksa saya benar-benar mengingat banyak angka. Sepanjang bulan, seluruh minggu, setiap hari dan setiap jam, saya dipaksa mencermati begitu banyak angka sembari bersahabat dengan sumber stigma dan perdebatan yang belum usai sampai sekarang, Covid 19 (ada angkanya juga loh…)

Berapa nilai saturasi, jumlah suplemen dan vitamin, frekuensi minum obat, kapan terkena, tracking siapa saja yang terdampak, kapan gejala berubah, durasi gejala, sampai jumlah jenis sayur, lauk, obat herbal, lama berjemur, waktu berjemur, jumlah segala dukungan, doa, video lucu, hiburan online, drakor, film jepang, jumlah klip BTS dan MV youtube, sampai peringatan melalui semua pesan, wa, sambungan telepon dan video call, serta segala statistik di media massa dan medsos tak lepas dari jumlah angka-angka. Belum pernah nilai dan ragam pemakaian angka begitu banyaknya. Masih ditambah lagi tahun ini saya menikmati angka kembar, 44, pasangan angka yang bahkan salah satunya saja, dalam budaya Asia Timur bisa menimbulkan efek Tetrafobia karena sangat berkaitan dengan kematian. Mitos ini, dan perdamaian saya dengan virus serta segala angka penyertanya ini bikin saya merenung ke angka-angka lainnya.

Angka-angka yang terlibat erat dalam pertanyaan mendasar, sudah berapa banyak waktu saya lewati, dan masih berapa lama lagi saya diberi waktu, untuk berapa banyak orang – kejadian – tempat – dan entah apa yang mesti saya hadapi lagi? Saya sadar, tidak terlalu suka berhitung, tidak mendalami numerologi dan bukan seorang numero phobia, tapi saya mengerti, saya tidak pernah boleh lagi lupa berhitung, mengingat angka jumlah dari setiap berkat yang masih bisa saya peroleh, dalam setiap napas dan kesadaran yang saya rasakan.
Saat saya masih diberi hidup.



Semoga seluruh mahluk hidup berbahagia.
Hari ini, di Manokwari, pada hari Kamis dengan tanggal cantik yang berlaku sedunia. 4-3-‘21

Jumat, 04 Desember 2020

Kekhawatiran

Apa yang paling engkau cemaskan dalam hidup ini?
Ketakutan sebesar apakah yang paling menghantuimu, baik sadar, maupun tanpa sadar?
Pernah engkau membaginya dengan orang lain?
Atau membiarkannya menguasaimu?

Mungkin benarlah, bahwa kenangan tentang jatuh, terjatuh, kejatuhan, menjatuhkan, dan sejenisnya bisa tersimpan begitu kuat dalam pikiran, dan seringkali melibatkan perasaan. Salah satu kenangan tentang jatuh ini menyangkut orang terkasih saya yang sudah pergi, Mama. Waktu, rentetan kejadian, setiap benda, orang dan aktifitas apapun yang terlibat dengan jatuhnya beliau pada saat menjelang sakit, bisa terpelihara dengan sangat segar dalam benak. Seringkali menimbulkan rasa ngilu bila terpicu hal-hal yang terkait dan langsung tergambar kembali dengan jelas. Ada banyak rasa sesal di sana, ada banyak pertanyaan mengapa begini, mengapa begitu, seharusnya begini, seharusnya begitu yang juga terlibat. Segala kesulitan yang mengikuti, tidak pernah hilang pula dari ingatan.

"Semua orang yang sudah lanjut usia mengalami penurunan kondisi tubuh, dan sangat beresiko untuk jatuh dan cedera. Kita hanya bisa berupaya menjaga." Itu juga sebagian dari pesan dokter saat itu yang teringat, bahwa selalu ada peluang hal-hal yang dikhawatirkan akan terjadi. Bersiap dan tetap waspada, hanya itu yang sebenarnya bisa dilakukan.

Saya juga sering jatuh, pernah secara fisik dengan efek luka dan memar yang kelihatan. Namun lebih sering lagi jatuh secara mental, dan dalam pikiran, yang dampaknya tidak kelihatan, tapi justru lebih lama pulih. Jatuh cinta, mungkin saja berdampak lebih lama dan menyehatkan, tapi jatuh sakit secara psikis, selalu tersembunyi dan sulit sembuh. Yang paling mencemaskan, semuanya bisa keluar setiap saat dalam ketakutan dan kegelisahan, penuh trauma.

Seperti sesosok bogart dalam kisah Harry Potter, yang menjelma menjadi ketakutan terdalam setiap penyihir yang menghadapinya, trauma itu membekas begitu dalam.
Atau seperti sosok imoogi dalam kisah siluman rubah penjaga gunung, yang memanfaatkan kecemasan terbesar semua tokoh di dalamnya, kondisi itu berlangsung ratusan tahun.
Bisa saja kekhawatiran akan kejatuhan terlihat hanya sebagai bagian menakutkan dari cerita itu. Semua tokoh pernah jatuh, pernah mengalami masa sulit, bergumul untuk bisa mengatasi rasa sakit, seringkali rasa malu, bergulat sendiri dengan perasaan dan pemikirannya, mencari tenaga untuk pulih kembali, dan bernafas terus dengan segala trauma sesudahnya.

Jadi, karena siapapun punya peluang untuk jatuh, masih mau bangkit kembali kan?
Gambar diambil dari RS Provita, awal tahun lalu, penuh kenangan dari yang terkasih, Ibunda Maria G. Keiluhu-Here.

Kamis, 03 Desember 2020

Menghitung Berkat

Setiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam menghitung berkat yang diterimanya setiap hari.
Itu juga kalau dia ingat untuk menghitungnya.

Mengerjakan rencana yang sudah ditargetkan, menjalankan usaha apapun yang sudah diniatkan, atau sekedar memenuhi tenggat waktu tugas-tugas, bisa termasuk daftar berkat-berkat yang sering tidak disadari bisa dilakukan setiap hari.
Yang lain lagi mungkin melakukannya dengan cara berbeda, mengingat segala kesalahan, masalah, dendam atau menghabiskan sepanjang hari dengan mengeluh dan memikirkan kepahitan yang dialami. Entah dengan sadar, atau tidak sadar, iklas atau terpaksa, dengan santai, atau campur aduk, semuanya bagian dari menjalani berkat itu.

Masih ada banyak lagi hal-hal sederhana yang hampir selalu luput dari menghitung berkat, dan sudah pasti menjadi bagian litani tanpa kata Amin bila kita berusaha mengingat dan menuliskannya.
Ada yang menuangkannya dalam kata, ada yang menyimpannya dalam gambar, ada yang menguburnya dalam benak, sementara yang lainnya mungkin mau berbagi, pada siapa saja yang menyempatkan waktu untuk menerima.

Untuk saya? Bangun, dan selalu teringat untuk menyapa, sudah mengisi litani abadi itu.


Lewat mata yang masih mengantuk
Lewat dingin subuh menusuk
Lewat bantal berdaun hijau
Lewat mimpi yang belum usai
Lewat kasar kaos kaki tebalku
Lewat sesak rindu pelukmu
Lewat ingatan lembut bisik suaramu
Lewat pening pelipis dan sekujur dahiku
Ku melanjutkan
menyapa Nafasku


Terima kasih Tuhan
Aku masih hidup

Rabu, 02 Desember 2020

3 M

Sejak pandemi dimulai, muncul banyak sekali istilah baru, yang berkaitan dengan penyakitnya lah, penderitanya lah, dampaknya lah, kebiasaan barunya lah, segala macam, berisik sekali sampai berasa bisa bikin cabang ilmu baru di dalam ilmu Filsafat. Ilmu paling ajaib yang akhirnya, bisa juga saya pelajari sekarang, meski seperti biasa berujung dengan membawa lebih banyak pertanyaan tidak berjawab lagi.

3M, budaya adaptasi kebiasaan baru, cara termudah yang bisa dijalankan siapa saja untuk mencegah tertular Covid, awalnya menjemukan sekali untuk diikuti. Mengingatkan diri sendiri dan orang lain untuk selalu memakai masker, mencuci tangan sesering mungkin dan menjaga jarak, bukan hal mudah. Belum lagi kalau ada yang merasa diri kebal dan lantas bersikap bebal, membuat kita berusaha menambah kemampuan lebih, mengendalikan diri. Menahan diri sendiri supaya lebih tertib mengatur seluruh indera dan kebiasaan sendiri, supaya sedikitnya tetap bertahan sehat, waras, dan tidak muak dengan keadaan serta tim KB kebal-bebal tadi.

Menertibkan diri sendiri, bagi saya lebih ke arah menenangkan diri sendiri sembari mengingatkan bahwa segala kemustahilan adalah hal yang mungkin saja terjadi saat-saat ini. Virus tak kasat mata telanjang ini membuat banyak hal bisa terlihat dengan mata bahkan tanpa perlu terbelalak.
Melihat, bahwa nasib manusia sungguh serupa, terlahir, mesti berjuang untuk tetap hidup dan bertahan, atau hanya bisa berpasrah bila sang akhir sudah menjemput.
Memaksa kita untuk merasakan, bahwa bahkan segala daya, upaya, dana dan tenaga bahkan bisa memiliki batas.
Membuat kita mengerti, bahwa terkadang hanya harapan, doa, dan perasaan yang paling dalam saja yang bisa menguatkan kita pada saat kita berserah.

3M, mungkin bisa memiliki banyak versi untuk setiap orang, entah mereka menyadari, melakukan, atau mengabaikannya, memang kembali menjadi pilihan diri. Tapi bagi saya, melihat orang-orang terkasih berjuang keras hidup lagi, merasakan setiap nyeri, sesak, air mata, senyum mereka, dan mengerti betapa banyak berkat yang dialami, menghidupkan misteri menyenangkan tentang hidup sendiri.

Mengapa kita hidup? Ke manakah akan menuju kelak? Bagaimana nanti?



Untuk kakak-kakakku terkasih & semua pejuang COVID19. Semoga selalu diberkati Tuhan.

Selasa, 01 Desember 2020

Menuju Cahaya

Awal musim hujan tahun ini agak berbeda, mulai dengan malu-malu, tidak tegas seperti biasanya. Masih banyak hari cerah dan terik, sementara hujan dan badai kadang masih bisa dihitung jari. Bermukim di antara hutan berbatu karang dan kebun durian luas milik masyarakat berasa mewah sekali untuk saya. Menikmati udara dengan kualitas terbaik setiap hari - kecuali saat tetangga membakar sampah, ditambah suasana sunyi rumah di kampung - kecuali saat grup ibu-ibu kompleks bersenam aerobik dan ada tetangga yang konser sampai pagi, adalah kemewahan lainnya.

Malam ini, ada satu lagi bonus yang saya amati, serbuan laron sesaat setelah senja turun. Laron, fase bersayap dari rayap, musuh utama pemilik rumah berkayu (atau berangka kayu seperti milik saya ini), tahun ini keluar dan menyerbu lampu-lampu di kompleks dengan frekuensi lebih sering ketimbang sebelumnya. Sudah lebih dari lima kali pada awal musim penghujan ini.
Entah begitu besar populasi mereka selama pandemi ini, atau memang kompleks inilah yang menawarkan lebih banyak pendar kehangatan yang terdekat dengan liang-liang mereka, atau memang karena naluri mereka untuk mencari pasangan dan menyelesaikan siklus hidupnya, yang terpenting mereka keluar dari liangnya. Kegelapan liang membukakan jalan menuju sinar yang bisa mereka capai.

Setelah sukses keluar, mereka akan berupaya mencari pasangan dalam waktu semalam itu juga. Berhasil; membentuk koloni rayap baru, saat gagal; hidup mereka berakhir, sedikitnya menjadi penyambung hidup cicak, kadal, katak pohon, atau sebagai penghuni gudang makanan semut, saudara setanah berbeda liang. Hidup dalam keadaan buta, sibuk bekerja sepanjang umurnya di dalam lorong kayu dan liang gelap, menjadi anggota korsa paling berbakti kepada keluarga besarnya, dan tidak pernah komplen soal kedudukannya dalam kasta koloninya, hanya sebagian kecil sifat mahluk ujung tombak pengurai alami ini.
Hidup sederhana yang mereka jalani, luput dari pemikiran manusia, melibatkan banyak pihak dan banyak sistem teratur dan baku, melebihi system thinking dan model dinamis yang tidak cukup dipelajari dalam satu semester.
Mahluk mungil, yang berani keluar dan menjalani nasibnya, ternyata bisa jadi pelajaran berharga untuk manusia mumet ribet seperti saya. Saya, manusia yang sering sekali lupa kalau sangat dicintai Pencipta dan punya banyak rahmat, berkat dan anugerahNya, memang masih butuh sering berlutut, tunduk dan belajar dari lebih banyak ciptaanNya.


# Kalau mahluk sekecil ini saja berani keluar dari kegelapan menyongsong cahaya meski hidupnya masih penuh ketidakpastian, mengapa manusia sering memilih sebaliknya?


Pengingat untuk Senin, 30 Nopember 2020 – Hari I Novena St. Rafael

Jumat, 30 Oktober 2020

Menjaga Lilin

Semalam, waktu panasnya kenangan tentangmu lebih menyengat ketimbang cahaya lilin di atas lantai, aku menyerah. Terlalu banyak halaman yang belum selesai dibaca, huruf-huruf dan kata-kata berlarian tidak mau berhenti. Bahasa yang sama, bahasa yang berbeda, rumus yang sederhana, sampai yang hanya dimengerti oleh mesin, semua berebut ingin diperhatikan. Dan kembali rasa sesak di dada mulai menyerang, dengan nyeri dan sedikit kebas mulai menyerang lengan, bahu dan leher.

Malam Jumat yang tidak seperti biasanya, mengingat sudah ada niatan untuk menantikan sesuatu, entah tercapai atau tidak. Apa sebenarnya makna cahaya lilin di hadapan kali ini? Hanya sekedar penanda untuk menghitung sudah berapa kali listrik dipadamkan tanpa aba-aba? Atau pereda rasa pengap karena fobia gelap tidak pernah bisa hilang? Atau bisa jadi teman sumber harapan dan kekuatan yang menjaga lantunan doa-doa pasrah belakangan ini? Atau penyemangat supaya bisa membuat niatan untuk menanti waktu lewat tengah malam terwujud? Yang pasti,bukan sarana pesugihan yang makin banyak ditawarkan secara online di medsos dan gadget-gadget akhir-akhir ini. Terlalu banyak tanya untuk hanya sekedar cahaya hangat kecil ini. Dan karena melihat cahaya lilin kecil ini, ingatan tentangmu malah makin besar.

Kau, ingatan tentangmu, cahaya lembut yang menerangi lembar-lembar buku penuh tulisan usang berpuluh tahun lalu. Saat isi kepala dan hari-hari masih sederhana, kata dan makna masih begitu beragam, dan apapun selalu tampak menarik karena penuh gelisah masa muda.
Kau, ingatan tentangmu, cahaya yang terkadang suram dan sering terlalu terang saat mulai menapaki jalan pasir, berbatu, berliku, dan berusaha keluar dari banyak badai. Saat semua mulai merumit, dan kata mulai berbahasa dengan rasa yang berbeda, memasuki samudera yang terlalu luas penuh gelombang.
Kau, ingatan tentangmu, cahaya yang selalu ada di sana, sejauh pandangan mata, tapi tetap juga di dalam sini, menyala tenang dalam satu ceruk hati, tidak pernah padam meski berulang meredup karena jerih lelah. Saat menjaga nyalamu adalah satu-satunya yang menguatkanku dan melemahkanku sekaligus, di setiap tarikan nafasku yang sering tak tertahankan ini. Kutahu cahayamu selalu menghangatkan sangat banyak relung gelap dan dingin, dan karena itu aku harus rela berbagi.

Haruskah kuberhenti? Untukmu sendiri, perlukah kau menjaga lilinmu sendiri? Atau pernahkah? Sampai kapan? Atau masih perlukah kau menyalakan lilin? Jawabanmu? Lantas keputusanku menjaga lilin ini?
Sungguh mengesalkan sekali, melihat bayanganmu menyeringai dengan mata letih membayang dari tirai penuh renda di jendela. Baiklah, sekali ini keputusannya adalah menyerah, tidur, membiarkan lilin yang menyala terbakar pelan. Cahayanya menemani nyenyak tanpa mimpi malam ini. Tinggalkan tumpukan tugas dan ujian yang belum usai.

Hingga subuh tadi, lampu sudah menyala lagi, semua di-kembali-kan ke jalan yang benar, dan begitulah, apa yang diniatkan semalam akhirnya tidak tercapai, dan mesti disambung pagi ini.

Selamat ulang tahun, sosok cahaya yang selalu setia,
menyinari dan menghangatkan punggung dan wajahku,
meski terlewat dari menit pertama tengah malam tadi.
Tetaplah kuat cahayamu, dalam kegelapanmu,
dalam terang siangmu, setiap saat.
Semoga kasih, kekuatan, rahmat
dan segala yang terbaik selalu dianugerahkan Tuhan,
untukmu.
Amin.

Jumat, 27 Oktober 2017

ADA APA ?

Belum pernah sebelumnya, saya punya keinginan untuk pergi, menjauh, menghilang lenyap tidak berbekas, begitu saja, seperti sekarang ini. Ironis sebenarnya, saat segala sesuatu telah tersedia, tidak kurang suatu apa bila diukur oleh ukuran manusia, justru perasaan ini makin menguat.
Akibat perasaan cintakah? Masih merasa kesepiankah? Mungkin malah keduanya? Atau? Ada apa ?

Hidup, memiliki hati, yang dipenuhi cinta,
bahkan sementara sedang ditunggui oleh yang dicintai,
seharusnya sudah lebih dari cukup untuk membuat sibuk segala pikiran dan hari-hari kita tanpa perlu merasakan kusut dan galau, lalu mengapa setiap saat mesti saja ada celah untuk menumbuhkan kekhawatiran sendiri?
Ada apa sih ini?

Apakah karena dari awalnya sudah ada tembok kaca tebal yang membatasi kita,
ada dinding mahatinggi tak terlampaui memisahkan kita,
dan jarak tak terseberangi yang menjauhkan kita?
sementara tiap saat saya berusaha mengabaikannya
dan menafikkannya atas nama perasaan?

Cinta itu anugerah? Atau dosa? Atau apa?
Mengapa cinta yang indah itu bisa begitu membahagiakan,
sekaligus begitu menyakitkan?
Mengapa mengasihi dan menyayangi harus berarti bersiap untuk berkorban,
memberi sekaligus menerima, segala hal seringkali yang tidak bisa kita elakkan?
Dan mengapa sebuah senyum harus begitu lekat dengan air mata?

Seumur hidup saya belajar,
banyak pertanyaan mungkin bisa muncul tanpa pernah bisa dijelaskan,
seperti apa yang sedang terjadi sekarang.

Sampai kapan ? Lantas untuk apa lagi?





Sekali ini, saya menyerah...

Sabtu, 22 Oktober 2016

ADA Yang Masih Tersisa

Mati suri selama berbulan-bulan, sekali siuman, hidup, dan langsung bergelut kembali dengan maut.
Kadang hidup melebihi ironi yang paling lucu, yang sudah tak bisa lagi mengundang tawa saking menggelikannya.
Menyenangkan, melegakan, sekaligus teramat menyakitkan untuk tetap dinikmati.

Kemarin, seorang pergi setelah yang lain tiba. Kembali, yang tertinggal berupaya membebat lubang-lubang hatinya dengan rapat, sekali ini tak boleh ada angin basah atau dingin hujan merembesinya. Senyum dan tawa mungkin bisa menambal kerut-rapuh di wajah, tapi sekali lagi, segala sesuatu tidak akan pernah sama lagi. Menumpulkan indera, menjilat luka, menelan derita, dan kali ini tanpa air mata, hanya pengertian sarat makna.

Seperti kata seberkas cahaya di pagi bermendung gelap tadi pagi,
ADA yang telah dilemparkan ke dunia, dan betapapun akan tetap terus menyala
ADA yang lebih panjang, lebih lebar, lebih dalam dan lebih tinggi, dan tetap tanpa batas,
ADA yang selalu begitu luar biasa, tapi jarang kita sadari
ADA yang datang dan pergi, tapi selalu ada yang tinggal
Sampai kita sendiri duduk mendiamkan diri, dan disapanya.




Hidup,
Menjalani kenangan penuh didikan,
Dalam cinta padaNYA
Terima kasih.
Amin.


Untuk P.A.S. a.k.a.Mas Bro AR di Rabu, 19 Oktober 2016,
May Jesus bless you always.

Rabu, 18 Mei 2016

The limit

I got a short message from a little bird yesterday.
It dropped abruptly when the bird tried to reach the bars in my back window.
It's only a simple message, though the way it came to me was unusual.

"You know my name, not my story. You've heard what I've done, not what I've been through"

I do not know what other people may think about this message, but for me, it just remind me not to judge people at anytime we see them.
We may know them, know what they've done or said, but we may never know how they live their life, or whatever reasons they have for their acts or talks.
The message give me clear visions about certain limits in our interactions with other people in daily basis.
It’s a very human thing that we usually become so curious with everything about life, including other people's life.
Who are they, what they wear, how do they look, what they eat, whom they talk to or live with, why they do this or that, what are their precious things, how much money they have or spend, why they choose this or that, what are their secrets, or any other unlimited things about them can become very interesting for us to search.
Kepo, need to know every particular object from other’s life have become common in everyday life.
Unfortunately, this “humanly thing” sometimes expands beyond our mind, when we expose these things in the daily conversations with them, and influence our acts to them.
I think the message wants to tell us again not to have a finger in other people’s pie. Everyone has their own problems and they also have their own rights to grow through their hardship. We do not have any right to add more burdens for their journey to success and happiness, by word or deed. We may see them as imperfect, but we are not flawless, too.
Put a limit in our mind when we think, or in our mouth when we talk, or in our hands when we do everything with other people may become the best thing to keep our life priceless.

The little bird smiled at me, then flew away. I was just wondering, when it will be back again, just to ask,
”Take your limits, and mind your own business...would you?”



Praise the Lord...He limits me to live in His love

Jumat, 23 Oktober 2015

Three Friends

Three little friends grow up together,
shoot from the debris with shining coat,
find each own destiny with no doubt,
reflect the light to thrive better.




living in a real world,
alive, yet apart...


Senin, 24 Agustus 2015

Bijak Sejenak

Sekian lama, setelah berbulan-bulan baru muncul lagi di misa subuh ternyata membawa kesan tersendiri. Pagi ini, setelah semalaman tidur dengan penuh keringat dan pikiran melayang terpengaruh obat, niat mencuci otak di awal pekan akhirnya terlaksana.
Untunglah, apa yang diniatkan memang biasanya ada ganjarannya. Pesan pagi ini sederhana sekali, bagaimana kita bisa berjuang untuk menjadi bijaksana, sekaligus menularkannya pada orang lain. Kuncinya hanya satu, dengan berbagi. Tetapi setiap hal yang kita bagi harus punya syarat, dan syarat ini lebih dari satu pastinya.
Pertama, hal itu benar adanya… Sesuatu yang benar lebih pantas kita bagi, karena jauh lebih mudah dipahami daripada yang salah.
Kedua, hal itu baik rupanya… Membagi kebaikan selalu lebih membahagiakan untuk orang lain, dan hampir selalu memantul kembali pada diri kita.
Ketiga, hal itu bermanfaat… Karena memang banyak hal mungkin benar dan baik, tapi tidak bermanfaat untuk dibagikan.
Membatasi diri hanya pada ketiga hal tersebut memang jauh lebih mudah diucapkan dan diingat-ingat ketimbang dilaksanakan, tapi belajar dan berupaya merupakan kelebihan manusia yang lebih unggul daripada mahluk lain. Dan sekali ini, saya menemukan kembali beberapa hal yang bisa saya bagikan… ada banyak poin yang pasti tidak populer dan kita, termasuk saya pasti akan menghindarinya bila memungkinkan, tapi saya tetap berharap semoga berguna.

Belajar Menjadi Rendah Hati dan Bijaksana – Pesan Mother Theresa
1.Berbicaralah sesedikit mungkin tentang diri sendiri
2.Uruslah sendiri persoalan anda
3.Hindari rasa ingin tahu masalah orang lain
4.Janganlah mencampuri urusan orang lain
5.Terimalah pertentangan dan kegembiraan
6.Janganlah memusatkan perhatian pada kesalahan orang lain
7.Terimalah hinaan dan caci maki
8.Terimalah perasaan tak diperhatikan, diperlakukan dan dipandang rendah
9.Mengalah terhadap kehendak orang lain
10.Terimalah celaan, walaupun Anda tidak layak menerimanya
11.Bersikap sopan dan peka sekalipun seseorang memancing amarah Anda
12.Janganlah mencoba agar dikagumi dan dicintai
13.Bersikaplah mengalah dalam perbedaan pendapat, walau pendapat Anda yang benar.
14.Pilihlah selalu yang tersulit.



Thank you, Lord... for show the light again and push my Refresh button

Rabu, 20 Mei 2015

BERLATIH DIRI


Duduk tenang dan bersabar
adalah salah satu perilaku yang teramat sulit bagi saya.
Selama ini kedua hal itu menjadi salah dua pelajaran hidup yang terpaksa harus saya tekuni dan jalani dengan sepenuh konsentrasi. Seringkali keduanya teralihkan dan digantikan oleh segala kesibukan, pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya, masalah yang selalu ada saja, sampai gangguan dan godaan yang bisa muncul kapan saja. Memiliki waktu untuk men-sunyi-kan diri malah berubah menjadi sesuatu yang mahal sekali harganya, tidak bisa dibeli meskipun dengan uang gaji, berikut semua tunjangan-tunjangan lainnya.
Men-sunyi-kan diri, bukan hanya menenangkan diri seperti biasanya, tetapi lebih pada berlatih mengosongkan dan mendetoks alam pikiran, hati, jiwa, tubuh sekaligus. Suatu proses yang tidak bisa dijalani dengan sekejap mata, butuh banyak tahapan dan sekumpulan waktu yang perlu dikorbankan.
Dan bagi saya, gabungan proses berlatih diri inilah yang menjadi hadiah akhirnya.

Sebuah cahaya yang seringkali redup menuliskan kembali pesan ini…
“Duduklah di situ dan jadilah pandai di tempat kamu duduk…”
Ia mengingatkan betapa bersabar dan belajar di manapun kita berada, adalah proses abadi dalam hidup.
Sama seperti latihan kesabaran yang justru saya dapatkan sebagai bingkisan Paskah tahun ini.
Lima bonggol buruk rupa dan setengah hidup, menjelma menjadi kuntum-kuntum besar yang merekah, tumbuh pesat dari tanah yang tak seberapa subur.
Tuhan menghadiahkan cara sederhana bagi saya untuk melatih diri duduk tenang, bersabar, dan berusaha kembali penuh perhatian pada proses menghitung berkat dan anugerahNya. Tidak terduga memang, tapi caraNya memang tak pernah bisa kita selami.









Hidup ternyata masih jauh dari usai, dan kasihNya nyata, lebih tak terukur lagi…

(Foto-foto: amaryllis hadiah Paskah dari om Pil-Mone; Kutipan: pesan A.O. Ataruri, hadiah Pekan Paskah dari tetenya Econ)

Selasa, 20 Januari 2015

Sibuk ? Hidup !

Memasuki tahun yang baru dengan banyak rencana,rasanya sudah wajib sekali hukumnya untuk kita. Tidak ada rasanya yang ingin memasuki tahun baru dengan banyak beban. Setahun yang lalu, syukurlah saya benar-benar sibuk... yup sibuk menjalani hidup.
Dan tahun ini, rasanya, syukurlah, saya berharap tidak akan jauh berbeda.



Mulai dengan mengerti betapa indahnya insomnia dan jatuh hati lagi pada alam bawah sadar yang jarang dimengerti...



Lantas, mulai mengerti bahwa selalu ada saat pertama untuk kita sementara untuk orang lain mungkin saat itu takkan pernah datang. Menjadi sok-sok pujangga saat rasa lapar menyerbu, dan sukseslah resep pare isi serta pasta tuna tersaji di atas meja.



Sampai akhirnya berhasil mengumpulkan roh dan nyawa kembali, bersiap sibuk kembali berkejaran dengan deadline hidup.





Terima kasih Tuhan.
Ada cinta yang sedang menunggu
malu-malu

Hohoho

Kamis, 11 Desember 2014

Seri Hidup II

Akhirnya tiba lagi di akhir tahun
saat kerjaan bertumpuk, serasa rodi gak abis-abis
dan waktu gak cukup-cukup juga
untuk nyelesaiin tugas-tugas, beresin hutang-hutang
siap-siap, beres-beres, dan menikmati hidup.

btw,
Puji Tuhan
untuk orang-orang terkasih,
dan hidup ini....



di gambar ini, hanya sebagian kecil dari yang belum rampung,
yang lain disembunyiin dulu ^_*