Tampilkan postingan dengan label T r i v i a l. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label T r i v i a l. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Maret 2015

Menyaru? Atau Berubah?

Seorang kawan beberapa hari lalu mengajak untuk kembali menekuni hobi lama yang sempat terlupa.
Memotret.
Sekian lama menyibukkan diri dengan hal-hal yang (dipaksa) penting membuat kebiasaan ini harus "dipanggil" kembali.
Sebenarnya obyek sederhana yang menarik perhatian kawan ini adalah seekor bengkarung, kadal hijau yang disangkanya seekor bunglon. Sang "tersangka bunglon" ini sedang berjemur di batang cemara kipas depan ruang kerjanya.

Kesesuaian warna ekor dan peralihan warna tubuhnya membuat sang bengkarung seakan berada dalam proses menyaru, menyamar dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Meski akhirnya hanya membawa senyum, ada saja pertanyaan gak penting yang lalu muncul, apa memang mahluk hidup sering berada dalam posisi itu? Selalu dalam proses menyamarkan dirinya? Atau aslinya memang sudah memilih berubah sesuai lingkungannya?



Senin, 16 Juni 2014

Seri Hidup 1

Lengkap dengan warna kulit sekitar mata yang menggelap dan berkerut,
koleksi kuap yang tidak terbatas, sampai rasa lapar yang tak tentu jadwal,
mengisi pekan-pekan melelahkan ini.
Beberapa keramaian sebelumnya, lanjut dengan kegilaan berkala,
yang rutin muncul setiap empat tahun,
juga menyerang banyak orang secara beramai-ramai,
dan menggantikan beberapa demam yang lebih dulu muncul.

Mulai dari demam menghabiskan beribu pulsa untuk sang Idol,
sibuk menjagokan caleg dan capres pilihan,
hingga fanatisme tim bola yang sedang memanas belakangan,
Perkara dukung-mendukung, hujat-menghujat,
berkorban secara tak masuk akal,
lantas berakhir dengan kekecewaan, atau kegirangan,
semua ada dan datang bergantian
memberi banyak energi, dan menafasi kita dengan semangat.
Warna persaingan, aroma perpecahan,
kadang bau perselisihan dan dendam juga ikut.

Hidup tak pernah sederhana, selalu ramai dan gaduh, penuh rasa
tidak pernah sendiri, ada saja yang berlintasan jalan di depan kita
bersedih sekarang, berkeluh nanti, atau selalu bersuka dan berbagi dalam tawa,
menikmati hidup, pilihan kita.





Memulai pekan ini tanpa dendam,
hanya dengan kasihNya dan peluknya


YUP

Selasa, 04 Juni 2013

Ilham Kepagian

Bangun pagi. Bagi sebagian orang bisa jadi bagian dari perjuangan hebat yang terkadang disertai penderitaan. Berupaya dengan segala daya mempertahankan mata tetap terbuka sambil memanggil roh sendiri yang sedang asik berkelana memang betul-betul berat. Bersyukurlah saya mengenal beberapa teman, sahabat dan kerabat yang selalu termasuk pejuang sejati dalam pertempuran bangun pagi ini.
Bertolak belakang dengan saya, yang sulit sekali melawan kekuatan jam biologis tubuh, seringkali malah sudah siuman sebelum diteriaki ayam jago digital di samping kuping. Kebiasaan yang tidak jarang bikin badan melayang-layang kalo habis begadang dan badan tetap tidak bisa diajak mbangkong - tidur sampai siang. Tetap sadar segera setelah matahari terbit.

Postingan ini muncul bukan karena kedua sebab di atas. Tapi justru karena bangun kepagian. Kebanyakan beristirahat dan tidur seharian ternyata lebih dari cukup untuk wayangan setelah terbangun mendadak selepas tengah malam. Segala cara sudah dikerjakan, mulai dari yang biasa hingga yang bikin putus asa. Menyelesaikan pekerjaan kantor yang nyisa, sudah. Melancarkan jurus-jurus yoga sambil berdoa litani, sudah. Berkhayal dan menyusun banyak rencana ajaib, sudah. Belum bisa nyenyak juga. Sampai terpikir untuk sepedaan sambil merapal mantra "ngantuk... tidur...mimpi..." berkali-kali. Untunglah niatan itu tidak terlaksana karena masih ada sedikit kewarasan tersisa di otak, dan akhirnya kantuk muncul juga sesaat sebelum subuh.

Beristirahat, tidur, bangun dan beraktifitas kembali, satu kelompok rutinitas wajib tubuh. Jadwalnya memang tidak selalu sama untuk setiap orang. Sebagian besar menjalani siang dan sisa yang lainnya lebih mengakrabi malam. Semua dengan alasannya masing-masing.
Tapi kejadian pagi ini menyisakan pesan bahwa terkadang,
salah satu cara terbaik untuk kembali bisa menghargai apa yg kamu miliki adalah dengan meninggalkannya sejenak.
Kerapkali, untuk menghargai kedamaian dan kenyamanan hidup, kita mesti sampai pada tahap mumet dan galau lebih dulu.
Lantas kembali pulang mendapati banyak berkat dan hadiah menunggu kita tanpa perlu kita cari jauh-jauh.







Jalur pita keemasan, ataupun kabut, semua ada, tepat setelah bangun.
Untuk kekasih hati, yang selalu rindu mengantar pagi sebelum mampu menggaulinya
Selamat pagiii....


Senin, 29 April 2013

Menyiksa diri

Beberapa hari yang lalu ada seorang teman yang mengajak ngobrol, mula-mula soal yang wajib dibahasnya karena kebetulan yang bersangkutan menjual produk, sampai akhirnya ke soal yang keliatannya gak penting tapi cukup menyentil. Teman ini menjanjikan sebuah produk masa depan, yang udah mulai bisa dirasa manfaatnya sekarang. Dan saya terpesona karena dengan penjelasannya saat itu, saya baru sadar bahwa selama ini saya rajin menyiksa diri sendiri dengan banyak hal yang tidak penting dan justru mengurangi peluang saya untuk hidup di masa depan. Akhirnya saya paham dan terpedaya dengan pengertian saya sendiri, lantas sukseslah produk itu saya beli. Cerita tamat sampai di sini. Terima kasih.

Hehehe... sebenarnya ini bukan kisah proses jual-beli produk yang biasa saja. Saya melihatnya sebagai bagian dari proses perubahan besar dalam cara saya memandang diri dan masa depan sendiri.
Sebelum ini, saya jarang menghargai kehidupan sendiri lebih tinggi daripada milik orang lain. Dari segi kemampuan, saya hanya memperhitungkan apakah saya bisa menyamai atau melebihi orang lain, lantas mengalahkannya sekalian. Dan sayangnya, kondisi itu berefek pada banyak hal lain. Saya sibuk memikirkan orang lain, saya sibuk memusingkan orang lain, saya sibuk menjadikan orang lain sebagai menu harian sakit hati saya, meski mereka kerapkali benar-benar tidak penting untuk hidup saya. Seringkali saya lelah dan ingin berhenti, tapi selalu berhasil kembali ke kondisi semula setelah melihat orang lain, dihina orang lain dan diperlakukan secara "khusus" oleh orang lain. Betul-betul tersiksa oleh "keinginan sendiri atas orang lain", manusiawi.

Untunglah pencerahan sempat datang sebelum saya betul-betul berubah menjadi orang lain. Dan banyak sekali cahaya berpendar menerangi jalan di depan saya. Lampu dalam kepala saya, pelita kecil dalam dada saya dan banyak percis mungil dalam tubuh saya sekaligus menyala terang. Saya berubah jadi manusia penuh sinar, meski bukan alien, siap menghangatkan jalan hidup saya sendiri, dan semoga bisa berbagi untuk sekitar saya.
Berkhayal lagi? Mudah-mudahan tidak. Saya menemukan, bahwa segala sesuatu yang saya lakukan, memang punya alasan penting untuk dilakukan, memang punya tujuan baik untuk dipertanggung jawabkan, biarkan orang lain menganggap itu tidak penting. Dan saya gembira saya bisa berhenti untuk menyiksa diri sendiri dengan pendapat mereka yang ternyata memang tidak penting.

Apa sebenarnya alasan kita untuk bekerja?
Apa sebenarnya alasan kita untuk berdoa?
Apa sebenarnya alasan kita untuk berilmu?
Apa sebenarnya alasan kita untuk segala perbuatan baik?
Apa sebenarnya alasan kita untuk hidup?




Kalau segala sesuatu punya alasan dan tujuan sendiri,
Mengapa masih saja selalu ada yang iri dan dengki
pada orang lain?


Berhenti menyiksa diri
dan selalu hidup sebagai diri sendiri
Cerahnyaaaa.......


(pict. www.dreamtime.com-image 11797146)

Senin, 03 Desember 2012

Hampir tiba

Kembali ke Bogor kali ini, rasanya segala sesuatu jadi dibaui dengan unsur "persiapan".

Pagi-pagi berangkat dari Manokwari tanpa sarapan, baru nyadar bahwa rata-rata flight dengan harga murah tidak menyiapkan apapun selain bahan jualan dan kursi tanpa makan, persis seperti pada rute perjalanan menuju daerah terpencil. Untunglah, setelah lebih lima jam penerbangan, ditambah transit kedinginan di makassar, perjalanan ini diakhiri dengan sukses di resto kecil dengan sajian teh segelas gentong yang murah hati. Tidak ada lagi kejengkelan akibat berangkat tanpa persiapan.

















Kali ini, dengan persiapan sekenyang di atas, sisa perjalanan dalam kepadatan tol Cengkareng-Baranangsiang berubah jadi tidur yang nyenyak.....

Lanjut lagi dengan misi berikutnya, perjalanan mencuci otak dan isi dompet di hari berikutnya, sukses membuahkan lebih banyak hasil. Bersiap-siap menyambut Natal, secara fisik sudah tampak di pusat perbelanjaan yang didatangi. Segala pernik-pernik, sale, kelengkapan hari raya sudah mulai terpasang di mana-mana.


















Sampai dengan yang satu ini, barang jualan yang membuat diri sibuk berkhayal, betapa asiknya kalo kita berhasil menangkap dan mengendalikan setangkup cahaya sesuai keinginan kita....

Tidak mampu mengelak dari ketatnya jam biologis, membuat saya sempat mengalami proses persiapan berikutnya. Misa pagi-pagi sekali di Katedral Bogor. Gereja antik yang punya begitu banyak kenangan, dan masih selalu berusaha menambah kenangan indah setiap kali dikunjungi, seperti saat Misa Adven I ini. Kesederhanaan sang homilis yang membius umat, membawa begitu banyak pesan, menyingkapkan apa sebenarnya yang membuat perjalanan kali ini betul-betul harus terselenggara untuk mencuci jiwa dan hati sendiri.


















Melihat korona cantik dan sisi altar ini, seluruh kepingan "bersiap-siap" dari awal perjalanan ini berusaha mengingatkan, ada yang hampir tiba, entah kita siap atau tidak.


Menulis tanpa persiapan, bisa bikin mumet sendiri, apalagi untuk orang lain ^___*

Selasa, 27 November 2012

PELANGIKU

Ada suatu ruang gelap dalam benakku,
penuh pecahan kristal bening prisma mungil
rapat beterbangan, padat bersentuhan
tampak rapuh, tajam saling menusuk
namun kokoh menjalin erat

Setiap kali ada cahaya memaksa masuk
Menyorot di dinginnya subuh, lembutnya fajar,
terik tengah hari,
kehangatan petang dan sejuknya malam,
nuansa apapun itu
melewati tingkap-tingkap mungil di sekujur raut,
sepasang depan, sepasang samping, dan yang sendirian…

Serentak, selalu saja ada rona lain terpantul
saat sang cahaya berusaha menembus sisi ruang gelap itu,
kemarin ungu, hari ini mungkin sekejap merah,
kapan hari lagi jingga, atau kerap kuning menyilaukan,
besok hijau, lantas biru sampai lembayung,
terus saja hingga berwarna-warni,
semakin kuat berpendar,
tak usai saling memancarkan kilauan bianglala.

Dan kusadari,
benakku tak lagi mengenal kekelaman,
hitam hanya satu latar pelengkap
untuk menerangkan indahnya tebaran pelangi.

I N D A H….sungguh.


















Untuk seseorang
yang teramat-sangat memperhatikanku,
jauh lebih dari diriku sendiri,

Terima kasih tak terhingga
untuk setiap jejak penuh pelangi
yang selalu kau ciptakan,
melebihi jalanmu sendiri.

Takkan pernah berhenti kukagumi,
betapa banyak waktu,
yang entah sadar ataupun tidak,
selalu kau habiskan untukku.

Ku tau hanya Tuhan yang mampu
membalas kasihmu yang sebesar itu


(lega, sedikit geli, teringat sorakan sepasang cahaya, “….koprol…..koprol..…koprol……trus…?” ^___*)

Selasa, 29 Mei 2012

Penyakit

Lama tidak menulis, banyak kejadian gak penting yang antri untuk dicuekin . Yang banyak menyita waktu, adalah penderitaan menanggung penyakit…

Penyakit-penyakit rutin seperti ngantuk tak tertahankan, lapar tak kenal waktu, sampai malas tak terkendali, sibuk berbaur dengan penyakit-penyakit lain yang kedatangan dan kadarnya kadang-kadang terlalu ajaib…. Terkapar karena kadar Tg tinggi ditemani penyakit wajib malaria tersiana, bikin kepala geleng-geleng sendiri, hobi yang dimiliki kok tidak banyak berbeda dari sakit-penyakit….

Untung sakit jiwa gak ikutan muncul sekalian…. Atau senewen tak berkesudahan yang sering terasa belakangan ini sudah seharusnya dijadikan gejala awal kegilaan.....hehehe















Hasil kunjungan ke dokter dan swalayan terdekat ternyata tidak banyak membantu, selain menambah penyakit lain, aturan diet baru disertai terkurasnya isi dompet. Tiba di rumah ada lanjutan lagi, ...kalo soal omelan, hinaan dan tertawaan dari orang lain, yang kali ini...syukurlah sudah bukan jadi penyakit lagi wkwkwk…


















Hahhh.... namanya juga hidup, seharusnya menikmati penyakit sudah jadi satu kewajiban. Malah seringkali ada kelegaan... Tenang karena ternyata tubuh ini masih punya batas, yang mengingatkan saat segala sesuatu mulai berjalan tak beraturan. Menderita sakit berarti mengakui bahwa tubuh ini masih bernyawa, dan punya kesempatan untuk sembuh dan dipulihkan...



Sakit lagi,
"_"
keliatannya bener kata salah satu cahaya kecil...
"cuma perlu diresepin nilpun banyak-banyak...biar waras"
^_*

Selasa, 01 Mei 2012

Ngarang

Sudah takdir kalau kita menghadapi hidup dengan banyak sekali perbedaan.
Karena itulah, menjadi lain terhadap orang lain dalam keseharian merupakan anugerah paling indah untuk dinikmati. Segala konflik dan solusi yang menyertainya menjadi lebih menarik untuk dirasakan.

Kali ini ada niatan untuk belajar berkata-kata dalam diam.
Niat ini muncul karena banyaknya perbedaan saat mengungkapkan maksud dan perasaan dari kepala dan hati kita. Banyak orang yang mampu berbagi dengan suara lantang, menyajikan gerak dan nada, sementara yang lainnya hanya menyiratkannya lewat warna dan corak, tidak sedikit pula yang sibuk menumpahkannya lewat huruf dan simbol, sementara sisanya, berjuang menyatakannya dalam kesunyian.
Berusaha membuat sang penerima maksud berusaha kreatif,memahami arti seperti seorang pembaca pikiran.

Duduk dalam keheningan,
hanya menatapi waktu berlalu,
sementara pikiran melayang-layang,
kemudian kembali lagi ke layar monitor,
ke lembar-lembar kertas yang dibaca,
dan berakhir ke atas keyboard,
atau setidaknya menggerakkan pensil
di atas lembaran-lembaran kertas buram.
Ternyata sama menenangkannya
dengan menjalankan yoga
dan mengistirahatkan benak
sepenuh kesejukan udara dalam paru-paru.
Menghiasinya pelan-pelan dengan rasa sayang,
terkadang juga kemarahan dan keingin tahuan...
sungguh-sungguh membuat hidup terasa tanpa batas...
mengantar pulang menuju kerinduan terdalam.

Menuliskan setiap nafas dengan cinta
dan menjadi unik dengan segala kelimpahannya.














Setelah sekian lama,
ngarang lagi,
masih nyaman juga sensasinya...

^_*

Minggu, 24 Juli 2011

Meminta...dan menerima

Lama tidak muncul, rasanya kangeeen sekali ngisi di blog ini.
Meski pikiran lagi awut-awutan, seperti uban balapan tumbuh simpang siur di kepala. Tetap saja dipaksain nulis, biar lega semua yang lagi huru-hara dalam otak.

Akhir-akhir ini (yaaah jurnal lagi...), sering banget nemu kejadian yang bertipe "umpan-balik"atau "kena-batunya" atau yang lebih parah "karma"...nilai rasanya mirip-mirip itulah.... mungkin lebih pas kalo pake istilah "meminta...dan menerima". Ada beberapa rekan yang dapat berkah mengalami peristiwa menerima apa yang diminta.














Mulai yang mengharapkan perubahan lalu menerima pencerahannya,
ada lagi yang memaksakan kehendak pada orang lain lantas menerima akibatnya,
sementara yang lainnya bersikeras menyombongkan kemampuannya dan akhirnya harus menerima kenyataan bahwa dirinya memang tak bisa apa-apa selain menjadi kriminal terselubung.
Renungan pagi tadi lebih cocok lagi, ada seorang Raja tersohor yang hanya menginginkan kebijaksanaan untuk memerintah rakyatnya, kemudian malah menerima segala kelimpahan lainnya sebagai efek pemerintahannya.

Setiap manusia selalu melambungkan permintaan, dan pasti akan menerima sesuatu sebagai ganjarannya...meski terkadang ironis, karena bisa saja yang diterima berbeda dari yang diminta.
Ajaibnya, seringkali mustahil menolak segala yang bakal diperoleh;
cepat atau lambat;
kurang, cukup atau berlebihan;
tepat atau meleset;
membahagiakan, menjengkelkan atau menyedihkan,
apapun itu.

Mumet akhirnya.... Sekarang, mungkin jauh lebih baik selalu belajar bersyukur...melihat ke dalam...berhenti bertanya-tanya dan mulai melanjutkan hidup kembali...













baru ingat, sudah harus meminta...supaya segera menerima...untuk rekan-rekan yang "beruntung" tadi...selamat ya....wkwkwk

Rabu, 26 Januari 2011

Janus

Baru nyadar, meski sudah di hari-hari akhir, hari ini masih ada di bulan Januari, bulan pertama dari tahun yang baru. Bulan yang namanya konon berasal dari nama Janus, seorang dewa dari mitologi Romawi bercampur Yunani. Janus memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu dan masa depan, sebuah hadiah dari Dewa Saturnus. Akibat bakat ini, ia digambarkan bermuka dua, masing-masing melihat ke arah belakang dan ke depan.

Tugas utama Janus adalah menjaga awal dan akhir waktu, sering dianggap juga sebagai simbol perubahan dan transisi antara satu kondisi ke kondisi lainnya, satu rupa ke rupa lainnya, atau gambaran pertumbuhan dari segala hal yang baru, bahkan dari suatu sistem semesta ke semesta lainnya.

Keberadaannya selalu secara positif memunculkan perasaan mengakhiri sesuatu sekaligus memulai sesuatu lainnya secara bersamaan.

Biarpun hanya bagian dari mitos, pilihan penamaan bulan ini ternyata bisa saja cocok dengan situasi hidup sehari-hari. Belakangan, keliatannya makin banyak saja kejadian yang menarik diri supaya meninggalkan dan menyelesaikan hal-hal lama, lantas bergerak memulai dengan hal-hal baru yang penuh keajaiban. Semuanya seperti membawa diri masuk lebih jauh dalam dunia dongeng.

Belum genap satu purnama, sudah mulai bertemu dengan manusia-manusia berwajah banyak, orang-orang dengan alter ego yang berbeda-beda, senyum-raut penuh maut bak medusa, dengan lidah-lidah penuh bunga yang sekejap bisa berubah jadi mercon.

Ironisnya, semua berdalih, untuk secara positif, menyelesaikan masalah lama dengan solusi yang baru. Menuntaskan konflik-konflik lalu dengan kesepakatan-kompromi baru.
Babak belur dan simpang-siur, asyik mengasapi huru-hara, sembari sibuk bergerilya di wilayah perang masing-masing. Menjadikan batas kebenaran dan kekeliruan keruh, sekabur fakta dan kebohongan. Akhirnya malah jadi tontonan menarik, yang secara tragis menelanjangi segala tabiat, kedok dan motif diri.

Bercermin kembali pada sang Janus, tepat juga bila hal-hal ini terjadi hanya pada awal tahun, cukup untuk berada pada posisi untuk diakhiri, untuk menjadi pijakan mengawali dan mengisi sisa waktu ke depan. Meskipun seringkali berada di posisi terpinggirkan, untunglah masih bisa penuh rasa, berdiri menyaksikan kekusutan arus yang mengalir di hadapan. Menyadari diri selalu bercacat tak sempurna, ternyata semakin membuka mata, masih jauh jalan, masih banyak tugas yang belum terselesaikan.



Hidup...
penuh sungguh,
tak terkatakan

Jumat, 30 Juli 2010

Berkemas-satu

Kejadian lagi,
tidak beda jauh sama yang awal
berantakan semua
bingung mau mulai dari mana

Berkemas-kemas

hampir 20 bulan
hiks hiks hiks....
sampai juga di sini
huhuhu

Berkemas-kemas

pikiran n perasaan bener-bener belum siap
tidak rela, tidak iklas,
panik, bisa pada beres atau? apa lagi yang kurang???
gimana nanti nih, kalo misalnya???
wuahhhh


















Kok, malah kerasa berat ya....

Minggu, 28 Maret 2010

Kelilipan

Malam ini mata kanan kelilipan, gak tanggung-tanggung, kelilipan kuku… kedengarannya jorok, tapi demikianlah adanya (lho?). Biasalah, kerjaan mingguan, ngerapiin penampilan jemari tangan dan kaki, sekaligus menghemat ongkos obat cacing setelah mengurusi tanah berpot-pot di glasshouse. Si kuku mental dan masuk mata, bikin blingsatan naik ke lantai atas, minta tolong teman serumah untuk mengurangi penderitaan...

Lega akhirnya, meski mata berair dan rasanya makin besar saja…mudah-mudahan gak mirip si Bugsy di Bedtime Stories... :P. Untunglah hanya kelilipan kuku, kalo kemasukan potongan kukunya…waaaahhh….bisa runyam… Kebetulan selama ini setiap ngoleksi pemotong kuku, tidak pernah dibiarin berada dalam kondisi sendirian, paling sedikit ditemanin gantungan kunci, atau kunci-kunci penting, biar tidak kelupaan naruh, karena bakal dipakai terus, weekly or forthnightly.

Setelah diperhatiin baik-baik, si pemotong kuku kali ini keliatannya berniat bikin kelilipan untuk ngingatin beberapa hal.

Hal pertama: ternyata kesehatan itu saling berkaitan; saat ini…kesehatan kuku, perut dan mata...gara-gara mengurangi ukuran kuku, lokasi rawan sumber penyebab cacingan, akibatnya kesehatan mata terganggu. Mungkin kebiasaan menggunting kuku sambil asik nonton TV seperti malam ini, juga harus dilarang. Berarti, kelilipan berguna juga untuk mengingatkan bahwa hidup sehat dan tidak ceroboh itu penting.

Hal kedua: ini dari merhatiin rekan-rekan si pemotong kuku; kunci-kunci sepeda dan gantungan kunci New Zea’s sheep. Barang-barang ini betul-betul mancing hasrat untuk jalan-jalan, naik sepeda ke mana-mana, trus menjelajah sampai ke ujung selatan benua ini, sambil hunting foto banyak-banyak. Geli, bisa muncul banyak keinginan, hanya dari ngeliat kedua benda sesederhana ini.

Hal ketiga: jadi mikirin orang lain; beberapa hari terakhir ini benak memang lagi sesak-sesaknya keracunan asap mangkel, eneg dan gemas melihat sosok-sosok yang physically-mentally-deceitfully, be proud with their situations in front of other people, and still keep it .... Waaaahhhh malah bikin diri sendiri bertanya-tanya.... Untunglah sempat panik tadi, isi kepala jadi agak jernih akhirnya. Mungkin sudah waktunya ini otak dikeluarin sebentar dari batok, trus dicuci bersih-bersih, sebelum menularkan penyakitnya sampai ke hati.

Entah semua ingatan di atas bisa saling nyambung atau tidak, seperti kelilipan tadi; ganjelan tadi gak bakalan ilang, rasa sakit tadi gak bakal usai, hasrat tadi gak bakal terpuaskan, the invisible racun tadi gak bakal terkuras, kalo gak ada pilihan untuk lepas dari semua. Ah!













Barang bukti; si potongan kuku, rentengan kunci sepeda, gantungan kunci fave, saputangan biru, di atas seprei pembawa mimpi....

Kelilipan, bisa aja bikin kumat, mengkhayal n mikir yang ajaib-ajaib hihihi....

Minggu, 17 Januari 2010

Imut

Sore ini, waktu proyek beresin glasshouse tahap I akhirnya selesai juga, sementara badan masih capek, dekil di sana-sini, basah keringat dan air keran, lari sipat-kuping menuju halte bis yang sunyi seperti kuburan tuwa, dan berakhir ngos-ngosan, harap-harap cemas menunggu bis minggu sore yang berjadwal gak jelas.... Ahhhh ada burung kecil yang tiba-tiba hinggap di rerumputan samping halte. Jelas ini burung dewasa, meski hemat di ukuran...
Diam-diam ngeluarin kamera, tangan gemetar dikuat-kuatin jadi tripod, dan klik, dapat beberapa jepretan.
















Masih bengong, sang burung memanggil temannya, dan duhai...betapa sulitnya maksain kamera untuk fokus ke obyek mungil yang terus bergerak, sibuk berpindah dan mematuk-matuk rumput. Blur...blur...blur...
















Liat burung-burung cuek nan imut-imut ini, anehnya, rasanya nenangin, meski akhirnya harus ngoleksi omelan supir bus yang sama, sampai dua kali, pp....hehehe, tak apalah, paling tidak sudah bantu ringanin perasaannya yang kesepian kekurangan penumpang :D














Si lucu ini ternyata masih bersaudara dengan burung pipit, bernama bule Double-barred Finch Taenopygia bichenovii, berwajah khas seperti burung hantu, dengan garis-garis hitam membingkai wajah putihnya, mengesankan kerah rapi di atas perut montoknya, lengkap dengan paruh abu-abu lembut, sayap burik dan buntut hitam. Tidak lebih besar dari ukuran kamera yang dipakai memotretnya, efek si unyil ini untuk memori file The Cryptic boleh juga....


Terima kasih, Tuhan
untuk setiap berkat kecilmu hari ini,
apapun itu.

Rabu, 06 Januari 2010

RINDU

Mungkin benar juga, perasaan membutuhkan sesuatu seringkali begitu kuat datang, justru saat yang dibutuhkan itu tidak tampak jelas, tidak ada di hadapan kita dan jauh dari jangkauan. Atau, meskipun ada, dekat, menempel di depan mata, masih berbeda nilai rasa, hingga tetap terasa kurang, dan kembali mengingatkan kita akan kebutuhan yang kurang itu.

Berhari, berbulan dan bertahun rentang waktu berlalu atau dinanti, dan betapapun rentang jarak tempat antara kita dengan yang dibutuhkan, bisa dirasa begitu menyiksa, merubah kita, memaksa menyalakan sumbu jiwa yang memancing pencarian tak berujung, atau bahkan mendesak kita untuk menyerah terpanggang penderitaan kosong tak terobati.

Tak berbilang sudah jumlah para pemimpi, pengembara dan penjelajah yang berkelana tersiksa hatinya sendiri, lalu dengan penuh sadar atau setengah linglung memerintah isi kepalanya untuk berjalan sesuai nalurinya itu. Separuh dunia mungkin saja dijejaki, lebih dari separuh usia mungkin saja ditempuh, untuk kemudian kembali ke pintu rumah yang sama, pulang ke sudut paling sederhana benak kita sendiri, untuk menemukan titik keindahan dari jawaban impian usang kita yang paling dalam.

Perasaan merindu, menginginkan, memimpi-mimpikan, bukan melulu urusan hati yang melibatkan sosok-sosok pencinta atau otak yang sering semrawut dan kusut dengan segala macam hal, kekuatannya bahkan mampu menjajah perut, wilayah pengolah tenaga ke seluruh organ lain. Bagaimanapun bentuk kontemplasinya, hanya dengan membuka mata untuk apa yang ada di keseharian, ternyata mampu menyiratkan keserupaan menyolok untuk satu rasa yang sama.














Spaghetti sarden kalengan bertabur parmesan, anggap saja mie panjang umur made in Maknyak tersayang, meski panjang "mie" yang ini sudah standard, karena dipotong seragam :D














Sushi n curry puff left-over dari kulkas, dicocok-cocokin aja dengan alpukat bermadu n nenas dingin, di detik-detik terakhir berkhayal isi tudung saji di rumah, sebelum pingsan kelaparan sehabis kerja...














Yang ini, menu dengan kekuatan sihir homesick paling kuat, kalau lapar tidak mengamuk, pasti acara makan sudah penuh air mata...tempe goreng seharga ayam sekilo, bayam merah beserta sambal kecap.... Ah!

Buset....gimanapun dibelokin, semua kok akhirnya selalu menuju ke satu arah...

Senin, 28 Desember 2009

Koleksi lama II

Babak kedua, sebagian kecil koleksi dari Mt.Zero/Taravale Wildlife Sanctuary. Saat dikunjungi pertengahan September lalu, kawasan ini sedang dalam proses manajemen api, dibakar secara terencana untuk mencegah meluasnya hutan hujan tropis dari kawasan Paluma National Park yang berbatasan langsung dengan si Sanctuary.

Suasana lokasi fieldtrip yang dipenuhi padang mengering, lantai hutan penuh jelaga, angin panas terik, udara penuh asap, dan hampir tidak ada badan air selain kolam-kolam mati berlumut hijau, betul-betul membuat hasrat untuk tetap tidur di tenda begitu kuat.














Salah satu pohon dalam petak yang dibakar, ada gua liliput di dalamnya, masih berasap dan panas sekali....














Ngumpul karena penasaran, ngamatin si berbisa Eastern brown snake Pseudonaja textilis yang berhasil ditangkap para asisten, tapi gak berhasil dipotret krn tetap diaman-in dalam plastik....














Perkampungan mahasiswa selama fieldtrip, masih pagi banget...lengkap dengan kabut asap yang mengepung dari hutan dan pohon terbakar di dekatnya.














Brooke Bateman, PhD fellow berwajah secantik Kate Middleton, salah satu asisten yang sedang meneliti mamalia di Queensland, bersiap-siap melepaskan seekor Long-nosed bandicoot Perameles nasuta yang sudah menginap semalaman dalam perangkap berumpan daging ayam...














Si kecil Daisy, satu-satunya yang berwarna menyolok di tengah hitamnya tanah yang terbakar. Anggota famili Asteraceae ini memang berkelopak seperti kertas yang liat, mekar dan melepas biji-biji ringannya untuk terbang justru setelah terkena asap dan api, bersiap menanti hujan untuk tumbuh menjadi sekawanan rumpun bunga di kawasan kering ini.


Fieldtrip yang menyenangkan dan tak terlupakan,
pulang dengan alga hijau di antara jalinan rambut,
berkasutkan abu kayu meranggas,
terlelap dalam kemerahan periodical fever

Minggu, 27 Desember 2009

Koleksi lama I

Yang ini babak pertama, koleksi lama dari sepanjang Burdekin River Catchment System dan Mt.Zero/Taravale Wildlife Sanctuary. Yang satu berbasah-basah dan yang lainnya penuh asap sampai berembun. Masih saja bisa mirip, karena keduanya bagian dari fieldtrip yang penuh dengan assignment dan demam panas-dingin.

Sepanjang Burdekin dkk



















Kebun tebu dengan selang irigasinya...ringkas, rapih dan optimal


















Tempat mengaso ideal, persis di samping kebun tebu














Tertangkap basah, seekor phyton zaitun Liasis olivaceus entah sedang asyik berenang atau justru berjuang keluar dari saluran irigasi. Ular tak berbisa yang digelari terbesar kedua di Australia ini memang suka berkelana di sekitar celah bebatuan dan badan air, lalu ngumpet menunggu mangsa di sana...














Yang ini Sheepstation Creek, kali kecil yang penuh tumbuhan air dari tepian sampai ke dasar airnya. Tidak keliatan seekorpun domba alias sheep saat didatangi, pada ilang entah di mana.















Daphnia pertamaku.... haiyaaa lucu banget,
berhasil dipotret dengan kamera ajaibku,
n langsung jadi bahan laporan...kasian...


Fieldtrip yang meneduhkan,
persis saat komplikasi yellow-heart fever menyerang
kepala terpusing-pusing dan akhirnya terkapar menyerah.

Sudah mulai?

Tidak ngerti ini sudah masuk awal musim badai di Queensland, atau hanya sekedar kesambit ekor-ekor putaran si Laurence, siklon tropis yang memotong miring garis bujur benua kering ini... yang pasti, hujan yang dibawanya bisa menghapus hari-hari sepanas neraka di dusun Townsville ini....
















Siap-siap jatuh





















Akhirnya jatuh juga...
gagal ke mana-mana


Ada yang diam-diam muncul, lalu asyik sendiri....Litoria infrafrenata


Hari-hari ini,
saat ku lelah merindu, dan hujan rinduku,
akhirnya badai sendiri yang datang menjemputku...
indah.

Jumat, 11 Desember 2009

Maybe I need this :)

I took a quiz from my friend's blog and still can't believe this.
In the up and down of my life... really, I wish this result always be true...


You are The Wheel of Fortune


Good fortune and happiness but sometimes a species of
intoxication with success


The Wheel of Fortune is all about big things, luck, change, fortune. Almost always good fortune. You are lucky in all things that you do and happy with the things that come to you. Be careful that success does not go to your head however. Sometimes luck can change.


What Tarot Card are You?
Take the Test to Find Out.



Thanks mb'Icha :D

Mungkinkah?






















Akhirnya muncul juga....
kali ini sama-sama sebongkah patung perunggu, lelaki tak berbaju, menjerit tanpa suara dan terikat rantai, persis di jantung perpustakaan kampus.
Teman-teman yang begitu baik membantu memotretkan sampai kegerahan dan risih sewaktu permintaan berpose di sampingnya terpaksa mereka kabulkan.

Siapa sebenarnya yang diwakilkan patung ini?
Ada nama yang ditempel di sampingnya: P r o m e t h e u s.
Salah satu tokoh dalam mitologi Yunani dengan nama yang berarti "Forethought", alias "Sudah dipikirkan sebelumnya" tapi apakah jalan hidupnya menandakan namanya itu? Cerita Yunani yang berusaha menjelaskan, seperti biasa, ribet, njelimet dan kusut, melibatkan banyak kisah, sebab dan akibat, beserta tokoh-tokoh penting lainnya...

Kalau tidak keliru, Prometheus adalah seorang titan, yang bersama saudaranya Epimetheus, berhadapan dengan para Olympians, berada di bawah perintah namun akhirnya setelah membuat kasus, berseteru dengan Zeus. Sampai berdatanganlah Athena, Aphrodite, Hermes, seluruh isi kerajaan langit, untuk menciptakan seorang Pandora, menghukum sekaligus memberi harapan pada seisi bumi yang disayangi sang Prometheus...
Masalah dengan Zeuslah yang membuatnya terpancang dengan rantai di atas Caucasian, mengumpankan hatinya untuk setiap kali dimakan elang raksasa dan tumbuh kembali hingga akhirnya ia dibebaskan Hercules.

Apa maksud tokoh ini berdiam di lantai perpustakaan kelabu yang dingin ini?
Ada banyak "mungkin" yang muncul. Dan rasanya semuanya juga "mungkin" nyerempet pada kebenaran filosofinya....

Mungkin 1: ia menunjukkan kelihaian dan kecerdikan - meski hidup dalam mitos, mampu menipu Zeus, yang memilih persembahan tulang-belulang (hal buruk) yang terbungkus lemak (hal baik) ketimbang daging segar (hal baik) yang dilapisi kulit kerbau (hal buruk)

Mungkin 2: ia menunjukkan kecerdasan - berdasarkan legenda juga, menjadi yang pertama menyalakan obor dengan cahaya mentari, sekaligus menimbulkan kecemburuan para dewa yang begitu pelitnya menyembunyikan api dan menyengsarakan manusia

Mungkin 3: ia menunjukkan semangat yang abadi - membiarkan hatinya terus merasakan regenerasi meski tak ayal nyeri dan tetap tak mampu bergeming, hingga datang penolong

Masih ada 1 mungkin yang tersisa, dan ini datangnya dari rekan-rekan yang berpendapat berbeda....
Mungkin 4: sosok ini bukan Prometheus(!!!), tapi menandakan semua orang yang ada dan datang ke tanah ini sebagai yang terbelenggu, dan mengingatkan untuk berjuang lepas dari belenggu itu, yang tentunya bisa berarti apa saja, berbeda untuk masing-masing orang...

Melihat dan mengartikan figur yang berdiri diam ini barangkali akan menghadirkan banyak versi lagi. Tapi dari sisi seorang pembelajar, semua nilai; meski itu hanya tersirat dalam cerita, sampai ke segala ke"mungkin"an di atas, pasti tetap melekat, sama seperti gaya kesakitan sang patung yang bisa membuat pipi memerah setiap kali melewatinya. Cara yang sederhana untuk mengingatkan, bagaimana menafaskan diri selama masih ingin belajar dari hidup ini.

Senin, 07 Desember 2009

Mulai lagi













RASA ini
kenapa muncul terus ya?
fluktuatif,
naik-turun saja kadarnya,
tidak bisa hilang

bikin rasa-rasa lain ikut muncul,
mengerikan,
lama-lama bakal meletus juga....
haaaaahhhh,
tidak penting banget!!!!

rame betul, ngumpul semua di ujung tenggorokan
nunggu muncrat pas nanti digorok....



(pict. defeatsocialanxiety.com)