Tampilkan postingan dengan label M i s c e l a n e o u s. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M i s c e l a n e o u s. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 September 2024

Survei Tokoh

Dari sekian banyak hasil pencerahan sejak pertama kali membuat blog ini, kali ini saya ingin memulai suatu perjalanan baru yang selalu saya impikan sejak lama. Perjalanan yang berawal dari titik nol, untuk terus menjadi kosong, supaya selalu ada kesempatan untuk terisi sejenak, bernafas dan bergolak hidup, lantas mengalir untuk mengosongkan diri lagi, untuk bersiap mengalami terisi kembali. Berangkat dari, selalu berada, terus berjalan dan bersemangat menuju titik nol. Mungkin tidak banyak yang berminat membaca, tidak apa, karena keinginan saya hanyalah berbagi, dan saya sangat memahami, apa yang dibagi tidak selalu menjadi bagian yang diharapkan. Saya ingin memberikan ruang untuk kerinduan, kegelisahan sekaligus kelegaan karena penerangan dalam kekusutan di dalam kepala di laman-laman postingan ini, berdasarkan pengalaman batin dan iman saya. Dan kali ini, saya memulainya dengan naskah yang menarik minat saya saat pelatihan sebelumnya. Bisa dibaca di postingan sebelum ini. Bukan renungan lengkap, tapi hanya ilustrasi yang meminta kita masing-masing mengambil kesimpulan sendiri untuk hidup kita.

Setiap orang yang pernah menjadi peserta suatu kegiatan, dengan materi yang banyak dan beragam, pemateri yang punya gaya menyajikan yang unik, didukung dengan segala jadwal kegiatan yang padat dan difasilitasi dengan panitia yang berdedikasi pasti membutuhkan evaluasi pada akhirnya. Bukan tanpa maksud, tapi sebagai dasar untuk perbaikan dan pengembangan di kesempatan berikut, karena, pastilah, setiap kegiatan yang melibatkan banyak orang, kerja keras dan dana memerlukan penghargaan dan pencapaian tujuan. Evaluasi ini muncul dalam bentuk penilaian, terutama dari peserta yang belajar menilai sendiri, apa saja yang mereka alami dan bisa mereka bawa pulang dari kegiatan ini. Bila penilaian atau survei dialkukan di awal, saat peserta mendaftarkan diri untuk ikut kegiatan, bisa dipastikan tidak ada item yang bisa dijawab pada lembaran penilaian atau survei tersebut, karena belum ada pengetahuan lengkap mengenai semua komponen kegiatan untuk dievaluasi. Para peserta memerlukan waktu, perhatian dan kesempatan untuk mengikuti kegiatan agar mampu menyelesaikan pengisian survei tersebut. Kondisi yang sama berlaku pada pelatihan yang saya bagikan dalam postingan kemarin. Sebuah survei dilakukan untuk menilai semua materi, pemateri, rangkaian dan kesan-pesan.

Mengikuti pelatihan seperti ini, yang saya anggap religius dan berkesan berat, selama ini tidak pernah saya ikuti tanpa ada kewajiban seperti pada saat jaman masih sekolah dulu. Pelatihan yang melibatkan hati dan pemikiran sekaligus seperti ini, melibatkan banyak orang yang saya yakin jauh lebih banyak pengalaman iman, untuk saya yang sifat dasarnya sangat introvert, selalu memicu ketakutan dan kekhawatiran dalam diri saya. Banyak "apabila", "jangan sampai", "mungkinkah" yang membuat saya overthinking dan maju mundur. Kali ini, ada hal yang berbeda. Informasi mengenai kegiatan ini saya peroleh dari flyer salah satu grup WA, dimana saya menjadi anggotanya karena harus menggantikan kakak terkasih yang sudah berpulang dua tahun lalu. Seperti biasa, saya selalu tidak pernah berminat berinteraksi dalam grup WA di mana saya dimasukkan menjadi anggota oleh orang lain. Menjadi stalker sejati dan memantau keramaian dalam grup adalah kebiasaan saya. Namun, hampir dua minggu lalu, flyer pengumuman ini masuk, saya membacanya, dan langsung memutuskan ikut, segera menghubungi panitia, mendaftarkan diri dan menyelesaikan segala urusan administrasi. Hanya ada kesan bahwa tema yang disajikan semoga bisa mencerminkan materi yang diharapkan dan bisa berguna untuk kegelisahan saya selama ini. Mendaftar hanya melihat tema, tanpa memikirkan siapa yang akan menyampaikan materi.

Seiring waktu, saya menjadi kepo, mulai browsing, dan menjadi penasaran setelah membaca profil singkat pemateri dan rangkaian keterlibatan beliau dalam beberapa acara. Saya memperoleh alasan pertama untuk mengikuti acara ini. Dan saya menemukan alasan berikutnya dengan segera, mengapa di bawah sadar saya menginginkan ikut pelatihan ini. Saya lahir dalam keluarga yang campuran dalam hal agama, kami semua seiman, tapi tidak selalu seamin, karena berbeda tempat dan waktu serta liturgi ibadah. Latar belakang keluarga papa dan mama yang berbeda gereja, membawa warisan keimanan seatap namun dengan dua pintu gerbang ke jalan besar yang sama. Kakak beradik menjadi berbagi jalan di tepi sungai air hidup yang sama di sisi berbeda, dan saya sempat merasakan kesepian dalam perjalanan iman sendiri. Terkadang timbul cemburu pada teman, kenalan dan keluarga lain yang selalu bersamaan pada salah satu sisi. Terkadang pula muncul kegelisahan untuk mengungkap apa yang menjadikan saya enggan berpindah dan selalu ingin bertahan pada sisi yang sudah saya pilih. Setelah ditinggalkan oleh kakak yang selalu mengajak gereja bersama, dan jauh dari adik yang sudah mulai memilih jalan hidupnya sendiri, saya menemukan alasan kuat.

Dalam keluarga yang beragam ini memang tidak selalu baik-baik saja, masalah dan tantangan tersedia setiap saat, tapi selalu ada kasih, cinta, perhatian dan pengharapan yang menyatukan. Dan yang selalu teringat sampai sekarang, adalah warisan akan teladan mama, sosok religius, pendoa dan pejuang paling kuat dalam keluarga, orang pertama yang akan bahagia saat anggota keluarganya berhasil dan senang, serta yang paling menderita saat keluarganya susah dan sakit. Sosok yang sangat bertekun dalam doa-doa pribadinya, gigih dan bersemangat dalam segala kunjungan, pelayanan dan apapun yang beliau lakukan dalam gereja, di tengah kesibukannya sebagai ibu dan guru. Pengenalan yang kuat itulah yang menyemangati saya mengikuti pelatihan ini, saya yakin beliau berani bertindak demikian selama hidupnya karena mengenal dan mengalami sentuhan tokoh yang beliau imani sampai akhir.

Survei, penilaian yang lengkap dan pengenalan akan tokoh penting yang mempengaruhi keputusan kita dalam hidup sebenarnya bagian dari renungan dalam Alkitab yang saya dalami kali ini, saat para murid Yesus menghadapi survei Yesus sejauh apa mereka mengenalNya dalam hidup. Survei yang sama yang juga selalu berhubungan dengan semua yang mengakui dirisebagai pengikutNya sampai sekarang. Apakah kita yang masih ada sekarang mengenal Dia, seperti apa, lantas apa konsekuensinya? Masih berani mengakuiNya terus dan menjadikanNya seperti pengakuan kita itu?

Marilah kita terus bertanya, merenungkan jawabannya, dan merealisasikan keputusan kita atas jawaban kita itu dalam hati kita, setiap hari. Yakinlah, untuk itulah kita diberi kesempatan hidup setiap hari.

Cerita ditulis sebagai tanggapan untuk renungan dari Markus 8:27-30

#Disclaimer : Ini refleksi, sepenuhnya hasil perenungan pribadi, bukan bermaksud mengajar, menggurui atau untuk diperdebatkan, semua pengertian, penerimaan atau penolakan harap ditanggung sendiri.

Selasa, 01 Desember 2020

Menuju Cahaya

Awal musim hujan tahun ini agak berbeda, mulai dengan malu-malu, tidak tegas seperti biasanya. Masih banyak hari cerah dan terik, sementara hujan dan badai kadang masih bisa dihitung jari. Bermukim di antara hutan berbatu karang dan kebun durian luas milik masyarakat berasa mewah sekali untuk saya. Menikmati udara dengan kualitas terbaik setiap hari - kecuali saat tetangga membakar sampah, ditambah suasana sunyi rumah di kampung - kecuali saat grup ibu-ibu kompleks bersenam aerobik dan ada tetangga yang konser sampai pagi, adalah kemewahan lainnya.

Malam ini, ada satu lagi bonus yang saya amati, serbuan laron sesaat setelah senja turun. Laron, fase bersayap dari rayap, musuh utama pemilik rumah berkayu (atau berangka kayu seperti milik saya ini), tahun ini keluar dan menyerbu lampu-lampu di kompleks dengan frekuensi lebih sering ketimbang sebelumnya. Sudah lebih dari lima kali pada awal musim penghujan ini.
Entah begitu besar populasi mereka selama pandemi ini, atau memang kompleks inilah yang menawarkan lebih banyak pendar kehangatan yang terdekat dengan liang-liang mereka, atau memang karena naluri mereka untuk mencari pasangan dan menyelesaikan siklus hidupnya, yang terpenting mereka keluar dari liangnya. Kegelapan liang membukakan jalan menuju sinar yang bisa mereka capai.

Setelah sukses keluar, mereka akan berupaya mencari pasangan dalam waktu semalam itu juga. Berhasil; membentuk koloni rayap baru, saat gagal; hidup mereka berakhir, sedikitnya menjadi penyambung hidup cicak, kadal, katak pohon, atau sebagai penghuni gudang makanan semut, saudara setanah berbeda liang. Hidup dalam keadaan buta, sibuk bekerja sepanjang umurnya di dalam lorong kayu dan liang gelap, menjadi anggota korsa paling berbakti kepada keluarga besarnya, dan tidak pernah komplen soal kedudukannya dalam kasta koloninya, hanya sebagian kecil sifat mahluk ujung tombak pengurai alami ini.
Hidup sederhana yang mereka jalani, luput dari pemikiran manusia, melibatkan banyak pihak dan banyak sistem teratur dan baku, melebihi system thinking dan model dinamis yang tidak cukup dipelajari dalam satu semester.
Mahluk mungil, yang berani keluar dan menjalani nasibnya, ternyata bisa jadi pelajaran berharga untuk manusia mumet ribet seperti saya. Saya, manusia yang sering sekali lupa kalau sangat dicintai Pencipta dan punya banyak rahmat, berkat dan anugerahNya, memang masih butuh sering berlutut, tunduk dan belajar dari lebih banyak ciptaanNya.


# Kalau mahluk sekecil ini saja berani keluar dari kegelapan menyongsong cahaya meski hidupnya masih penuh ketidakpastian, mengapa manusia sering memilih sebaliknya?


Pengingat untuk Senin, 30 Nopember 2020 – Hari I Novena St. Rafael

Selasa, 20 Januari 2015

Sibuk ? Hidup !

Memasuki tahun yang baru dengan banyak rencana,rasanya sudah wajib sekali hukumnya untuk kita. Tidak ada rasanya yang ingin memasuki tahun baru dengan banyak beban. Setahun yang lalu, syukurlah saya benar-benar sibuk... yup sibuk menjalani hidup.
Dan tahun ini, rasanya, syukurlah, saya berharap tidak akan jauh berbeda.



Mulai dengan mengerti betapa indahnya insomnia dan jatuh hati lagi pada alam bawah sadar yang jarang dimengerti...



Lantas, mulai mengerti bahwa selalu ada saat pertama untuk kita sementara untuk orang lain mungkin saat itu takkan pernah datang. Menjadi sok-sok pujangga saat rasa lapar menyerbu, dan sukseslah resep pare isi serta pasta tuna tersaji di atas meja.



Sampai akhirnya berhasil mengumpulkan roh dan nyawa kembali, bersiap sibuk kembali berkejaran dengan deadline hidup.





Terima kasih Tuhan.
Ada cinta yang sedang menunggu
malu-malu

Hohoho

Senin, 16 Juni 2014

Seri Hidup 1

Lengkap dengan warna kulit sekitar mata yang menggelap dan berkerut,
koleksi kuap yang tidak terbatas, sampai rasa lapar yang tak tentu jadwal,
mengisi pekan-pekan melelahkan ini.
Beberapa keramaian sebelumnya, lanjut dengan kegilaan berkala,
yang rutin muncul setiap empat tahun,
juga menyerang banyak orang secara beramai-ramai,
dan menggantikan beberapa demam yang lebih dulu muncul.

Mulai dari demam menghabiskan beribu pulsa untuk sang Idol,
sibuk menjagokan caleg dan capres pilihan,
hingga fanatisme tim bola yang sedang memanas belakangan,
Perkara dukung-mendukung, hujat-menghujat,
berkorban secara tak masuk akal,
lantas berakhir dengan kekecewaan, atau kegirangan,
semua ada dan datang bergantian
memberi banyak energi, dan menafasi kita dengan semangat.
Warna persaingan, aroma perpecahan,
kadang bau perselisihan dan dendam juga ikut.

Hidup tak pernah sederhana, selalu ramai dan gaduh, penuh rasa
tidak pernah sendiri, ada saja yang berlintasan jalan di depan kita
bersedih sekarang, berkeluh nanti, atau selalu bersuka dan berbagi dalam tawa,
menikmati hidup, pilihan kita.





Memulai pekan ini tanpa dendam,
hanya dengan kasihNya dan peluknya


YUP

Selasa, 04 Juni 2013

Ilham Kepagian

Bangun pagi. Bagi sebagian orang bisa jadi bagian dari perjuangan hebat yang terkadang disertai penderitaan. Berupaya dengan segala daya mempertahankan mata tetap terbuka sambil memanggil roh sendiri yang sedang asik berkelana memang betul-betul berat. Bersyukurlah saya mengenal beberapa teman, sahabat dan kerabat yang selalu termasuk pejuang sejati dalam pertempuran bangun pagi ini.
Bertolak belakang dengan saya, yang sulit sekali melawan kekuatan jam biologis tubuh, seringkali malah sudah siuman sebelum diteriaki ayam jago digital di samping kuping. Kebiasaan yang tidak jarang bikin badan melayang-layang kalo habis begadang dan badan tetap tidak bisa diajak mbangkong - tidur sampai siang. Tetap sadar segera setelah matahari terbit.

Postingan ini muncul bukan karena kedua sebab di atas. Tapi justru karena bangun kepagian. Kebanyakan beristirahat dan tidur seharian ternyata lebih dari cukup untuk wayangan setelah terbangun mendadak selepas tengah malam. Segala cara sudah dikerjakan, mulai dari yang biasa hingga yang bikin putus asa. Menyelesaikan pekerjaan kantor yang nyisa, sudah. Melancarkan jurus-jurus yoga sambil berdoa litani, sudah. Berkhayal dan menyusun banyak rencana ajaib, sudah. Belum bisa nyenyak juga. Sampai terpikir untuk sepedaan sambil merapal mantra "ngantuk... tidur...mimpi..." berkali-kali. Untunglah niatan itu tidak terlaksana karena masih ada sedikit kewarasan tersisa di otak, dan akhirnya kantuk muncul juga sesaat sebelum subuh.

Beristirahat, tidur, bangun dan beraktifitas kembali, satu kelompok rutinitas wajib tubuh. Jadwalnya memang tidak selalu sama untuk setiap orang. Sebagian besar menjalani siang dan sisa yang lainnya lebih mengakrabi malam. Semua dengan alasannya masing-masing.
Tapi kejadian pagi ini menyisakan pesan bahwa terkadang,
salah satu cara terbaik untuk kembali bisa menghargai apa yg kamu miliki adalah dengan meninggalkannya sejenak.
Kerapkali, untuk menghargai kedamaian dan kenyamanan hidup, kita mesti sampai pada tahap mumet dan galau lebih dulu.
Lantas kembali pulang mendapati banyak berkat dan hadiah menunggu kita tanpa perlu kita cari jauh-jauh.







Jalur pita keemasan, ataupun kabut, semua ada, tepat setelah bangun.
Untuk kekasih hati, yang selalu rindu mengantar pagi sebelum mampu menggaulinya
Selamat pagiii....


Senin, 03 Desember 2012

Hampir tiba

Kembali ke Bogor kali ini, rasanya segala sesuatu jadi dibaui dengan unsur "persiapan".

Pagi-pagi berangkat dari Manokwari tanpa sarapan, baru nyadar bahwa rata-rata flight dengan harga murah tidak menyiapkan apapun selain bahan jualan dan kursi tanpa makan, persis seperti pada rute perjalanan menuju daerah terpencil. Untunglah, setelah lebih lima jam penerbangan, ditambah transit kedinginan di makassar, perjalanan ini diakhiri dengan sukses di resto kecil dengan sajian teh segelas gentong yang murah hati. Tidak ada lagi kejengkelan akibat berangkat tanpa persiapan.

















Kali ini, dengan persiapan sekenyang di atas, sisa perjalanan dalam kepadatan tol Cengkareng-Baranangsiang berubah jadi tidur yang nyenyak.....

Lanjut lagi dengan misi berikutnya, perjalanan mencuci otak dan isi dompet di hari berikutnya, sukses membuahkan lebih banyak hasil. Bersiap-siap menyambut Natal, secara fisik sudah tampak di pusat perbelanjaan yang didatangi. Segala pernik-pernik, sale, kelengkapan hari raya sudah mulai terpasang di mana-mana.


















Sampai dengan yang satu ini, barang jualan yang membuat diri sibuk berkhayal, betapa asiknya kalo kita berhasil menangkap dan mengendalikan setangkup cahaya sesuai keinginan kita....

Tidak mampu mengelak dari ketatnya jam biologis, membuat saya sempat mengalami proses persiapan berikutnya. Misa pagi-pagi sekali di Katedral Bogor. Gereja antik yang punya begitu banyak kenangan, dan masih selalu berusaha menambah kenangan indah setiap kali dikunjungi, seperti saat Misa Adven I ini. Kesederhanaan sang homilis yang membius umat, membawa begitu banyak pesan, menyingkapkan apa sebenarnya yang membuat perjalanan kali ini betul-betul harus terselenggara untuk mencuci jiwa dan hati sendiri.


















Melihat korona cantik dan sisi altar ini, seluruh kepingan "bersiap-siap" dari awal perjalanan ini berusaha mengingatkan, ada yang hampir tiba, entah kita siap atau tidak.


Menulis tanpa persiapan, bisa bikin mumet sendiri, apalagi untuk orang lain ^___*

Selasa, 01 Mei 2012

Ngarang

Sudah takdir kalau kita menghadapi hidup dengan banyak sekali perbedaan.
Karena itulah, menjadi lain terhadap orang lain dalam keseharian merupakan anugerah paling indah untuk dinikmati. Segala konflik dan solusi yang menyertainya menjadi lebih menarik untuk dirasakan.

Kali ini ada niatan untuk belajar berkata-kata dalam diam.
Niat ini muncul karena banyaknya perbedaan saat mengungkapkan maksud dan perasaan dari kepala dan hati kita. Banyak orang yang mampu berbagi dengan suara lantang, menyajikan gerak dan nada, sementara yang lainnya hanya menyiratkannya lewat warna dan corak, tidak sedikit pula yang sibuk menumpahkannya lewat huruf dan simbol, sementara sisanya, berjuang menyatakannya dalam kesunyian.
Berusaha membuat sang penerima maksud berusaha kreatif,memahami arti seperti seorang pembaca pikiran.

Duduk dalam keheningan,
hanya menatapi waktu berlalu,
sementara pikiran melayang-layang,
kemudian kembali lagi ke layar monitor,
ke lembar-lembar kertas yang dibaca,
dan berakhir ke atas keyboard,
atau setidaknya menggerakkan pensil
di atas lembaran-lembaran kertas buram.
Ternyata sama menenangkannya
dengan menjalankan yoga
dan mengistirahatkan benak
sepenuh kesejukan udara dalam paru-paru.
Menghiasinya pelan-pelan dengan rasa sayang,
terkadang juga kemarahan dan keingin tahuan...
sungguh-sungguh membuat hidup terasa tanpa batas...
mengantar pulang menuju kerinduan terdalam.

Menuliskan setiap nafas dengan cinta
dan menjadi unik dengan segala kelimpahannya.














Setelah sekian lama,
ngarang lagi,
masih nyaman juga sensasinya...

^_*

Senin, 30 Mei 2011

MENJAGA

Rasanya lelah sekali
untuk tetap tegak menjadi Sang Diri
saat semua melihat dengan Mata
berpendapat dengan Dugaan
dan menuding dengan Tuduhan....

Sungguh-sungguh sendirian
waktu akhirnya berjuang mencari Sang Hati
ketika dengan penuh sadar mulai kehilangan Nalar
berjalan dalam nikmat Kegilaan
mematikan kabut Napas...

Berusaha menjaga...
namun semua sudah lepas dari Genggaman...
tiada pernah kan pulang


















ada yang hilang
terlalu pedih
mengapa...
tak mati saja.


If we judge others only by their outer appearance,
We might miss the wonderful surprise of what is in their heart.

--Bill Crowder

To guide us in what is right.
It is what’s in the heart that counts.

D. De Haan

Kamis, 06 Mei 2010

CUKUP

Suatu hari, seorang ayah yang sangat kaya raya mengajak anak istrinya untuk berlibur di sebuah pedesaan terpencil yang jauh dari keramaian. Untuk mencapai desa tersebut mereka harus menyeberang sebuah sungai yang sangat deras dengan meniti sebuah jembatan sederhana yang tersusun dari balok-balok kayu.

Tentu saja, di desa itu tidak ada hotel berbintang atau akomodasi lengkap yang biasanya mereka dapati bila menginap di tempat wisata. Untuk tempat tinggal, sang ayah memilih sebuah keluarga petani yang sangat miskin. Di sana mereka ikut bekerja bersama-sama sang petani, ikut bercocok tanam, mandi di sungai, dan lain-lain. Pokoknya semua kebiasaan dan kegiatan masyarakat setempat, mereka ikuti.

Sepulangnya dari tempat itu, sang ayah bertanya kepada anaknya.
AYAH : “Bagaimana dengan perjalananmu ?”
ANAK : “Wah……luar biasa sekali, Yah !”
AYAH : “Apa yang kamu dapatkan dari perjalanan kita ini ?”
ANAK : “Saya melihat sebuah kenyataan bahwa kita hanya memiliki seekor anjing sedangkan mereka memiliki 4 ekor anjing.
Kita memiliki sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke tengah-tengah taman sedangkan mereka memiliki sungai yang tidak ada batasnya.
Kita memasang lampu-lampu taman yang dibeli dari luar negeri sedangkan mereka memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi taman mereka.
Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka memiliki tanah sejauh mata memandang.
Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita sedangkan mereka melayani diri sendiri.
Kita membeli makanan yang akan kita makan sedangkan mereka tidak perlu membelinya karena mereka menanamnya.
Kita memiliki pagar tembok dan satpam yang berjaga-jaga selama 24 jam sedangkan mereka memiliki teman-teman yang menjaga kehidupan mereka.”

Mendengar penjelasan anaknya ini, mata sang ayah berkaca-kaca dan tak mampu berkata apa-apa. Dalam hatinya berkata “Anak-ku sungguh bijaksana, sekarang aku tidak takut untuk melepaskannya ke manapun.”
Tak berapa lama, sang anak menambahkan, “Terima kasih, Yah. Akhirnya aku tahu betapa miskinnya diri kita”.

Cerita kiriman teman di atas mungkin tidak terlalu nyambung dengan lanjutan postingan ini, tapi tak apalah, semoga setelah dibaca, (terpaksa) bisa nyambung.

Rasanya satu-satunya penyakit yang mampu menjangkiti semua manusia adalah alergi terhadap perasaan dan kata cukup. Tidak pernah merasa cukup, atau terlalu sulit mengucapkan kata cukup. Apapun tampaknya tidak cukup untuk ukuran manusia.

Tidak cukup waktu untuk menyelesaikan semua impian kita, tidak cukup ruang untuk mewujudkan harapan kita, tidak cukup senang dengan hasil apapun yang kita dapat, tidak cukup puas dengan rejeki kita, tidak cukup bahagia dengan orang lain, lalu entah apalagi... semuanya hanya tidak cukup baik buat kita.

Terlalu sering kita melupakan kelebihan; apa yang kita miliki, dan hanya berkonsentrasi dengan kekurangan; apa yang kita tidak miliki. Lantas tidak lagi bersemangat dan mengisi hari-hari kita dengan bersungut. Satu-satunya obat dan terapi terbaik untuk menyembuhkan penyakit ini adalah bersyukur atas apa yang sudah dicukupkan Sang Kuasa.Ini cara paling sederhana untuk memperbaiki hidup; karena kita, dan juga orang lain, tidak pernah diciptakan dengan kekurangan.

Seringkali kekurangan seseorang akan menjadi anugerah bagi orang lain, dan kelebihan seseorang akan menjadi anugerah bagi orang lain lagi.
Mengucap syukur dalam segala hal,
p a s t i...
akan mencukupkan dan mendatangkan kebaikan atas diri kita.


















Thanks God,
it’s been a half of full circle now,
and I only have a heart
wish it’s still good enough
for everything.

Minggu, 11 April 2010

Berat

Ngayuh sepeda butut
Pegal pinggang-keseleo
Jadi ingat....

Nggendong ransel penuh
Beban kerjaan-kesisa
Jadi ingat....

Ngerasa udara pagi
Sentuh pipi-kedinginan
Jadi ingat....

Nyusurin jalan jembatan
Halau burung-ketakutan
Jadi ingat....

Ngitung taburan senyum
Hapus embun-kesiangan
Jadi ingat....

Ngeliat bunga rumput
Mekar merah-keunguan
Jadi ingat....















Kangen berat,
malah kian menjadi-jadi
gombal tak tersembuhkan....

K.U.M.A.T, GAK ADA O.B.A.T

Minggu, 28 Maret 2010

Kelilipan

Malam ini mata kanan kelilipan, gak tanggung-tanggung, kelilipan kuku… kedengarannya jorok, tapi demikianlah adanya (lho?). Biasalah, kerjaan mingguan, ngerapiin penampilan jemari tangan dan kaki, sekaligus menghemat ongkos obat cacing setelah mengurusi tanah berpot-pot di glasshouse. Si kuku mental dan masuk mata, bikin blingsatan naik ke lantai atas, minta tolong teman serumah untuk mengurangi penderitaan...

Lega akhirnya, meski mata berair dan rasanya makin besar saja…mudah-mudahan gak mirip si Bugsy di Bedtime Stories... :P. Untunglah hanya kelilipan kuku, kalo kemasukan potongan kukunya…waaaahhh….bisa runyam… Kebetulan selama ini setiap ngoleksi pemotong kuku, tidak pernah dibiarin berada dalam kondisi sendirian, paling sedikit ditemanin gantungan kunci, atau kunci-kunci penting, biar tidak kelupaan naruh, karena bakal dipakai terus, weekly or forthnightly.

Setelah diperhatiin baik-baik, si pemotong kuku kali ini keliatannya berniat bikin kelilipan untuk ngingatin beberapa hal.

Hal pertama: ternyata kesehatan itu saling berkaitan; saat ini…kesehatan kuku, perut dan mata...gara-gara mengurangi ukuran kuku, lokasi rawan sumber penyebab cacingan, akibatnya kesehatan mata terganggu. Mungkin kebiasaan menggunting kuku sambil asik nonton TV seperti malam ini, juga harus dilarang. Berarti, kelilipan berguna juga untuk mengingatkan bahwa hidup sehat dan tidak ceroboh itu penting.

Hal kedua: ini dari merhatiin rekan-rekan si pemotong kuku; kunci-kunci sepeda dan gantungan kunci New Zea’s sheep. Barang-barang ini betul-betul mancing hasrat untuk jalan-jalan, naik sepeda ke mana-mana, trus menjelajah sampai ke ujung selatan benua ini, sambil hunting foto banyak-banyak. Geli, bisa muncul banyak keinginan, hanya dari ngeliat kedua benda sesederhana ini.

Hal ketiga: jadi mikirin orang lain; beberapa hari terakhir ini benak memang lagi sesak-sesaknya keracunan asap mangkel, eneg dan gemas melihat sosok-sosok yang physically-mentally-deceitfully, be proud with their situations in front of other people, and still keep it .... Waaaahhhh malah bikin diri sendiri bertanya-tanya.... Untunglah sempat panik tadi, isi kepala jadi agak jernih akhirnya. Mungkin sudah waktunya ini otak dikeluarin sebentar dari batok, trus dicuci bersih-bersih, sebelum menularkan penyakitnya sampai ke hati.

Entah semua ingatan di atas bisa saling nyambung atau tidak, seperti kelilipan tadi; ganjelan tadi gak bakalan ilang, rasa sakit tadi gak bakal usai, hasrat tadi gak bakal terpuaskan, the invisible racun tadi gak bakal terkuras, kalo gak ada pilihan untuk lepas dari semua. Ah!













Barang bukti; si potongan kuku, rentengan kunci sepeda, gantungan kunci fave, saputangan biru, di atas seprei pembawa mimpi....

Kelilipan, bisa aja bikin kumat, mengkhayal n mikir yang ajaib-ajaib hihihi....

Minggu, 17 Januari 2010

Imut

Sore ini, waktu proyek beresin glasshouse tahap I akhirnya selesai juga, sementara badan masih capek, dekil di sana-sini, basah keringat dan air keran, lari sipat-kuping menuju halte bis yang sunyi seperti kuburan tuwa, dan berakhir ngos-ngosan, harap-harap cemas menunggu bis minggu sore yang berjadwal gak jelas.... Ahhhh ada burung kecil yang tiba-tiba hinggap di rerumputan samping halte. Jelas ini burung dewasa, meski hemat di ukuran...
Diam-diam ngeluarin kamera, tangan gemetar dikuat-kuatin jadi tripod, dan klik, dapat beberapa jepretan.
















Masih bengong, sang burung memanggil temannya, dan duhai...betapa sulitnya maksain kamera untuk fokus ke obyek mungil yang terus bergerak, sibuk berpindah dan mematuk-matuk rumput. Blur...blur...blur...
















Liat burung-burung cuek nan imut-imut ini, anehnya, rasanya nenangin, meski akhirnya harus ngoleksi omelan supir bus yang sama, sampai dua kali, pp....hehehe, tak apalah, paling tidak sudah bantu ringanin perasaannya yang kesepian kekurangan penumpang :D














Si lucu ini ternyata masih bersaudara dengan burung pipit, bernama bule Double-barred Finch Taenopygia bichenovii, berwajah khas seperti burung hantu, dengan garis-garis hitam membingkai wajah putihnya, mengesankan kerah rapi di atas perut montoknya, lengkap dengan paruh abu-abu lembut, sayap burik dan buntut hitam. Tidak lebih besar dari ukuran kamera yang dipakai memotretnya, efek si unyil ini untuk memori file The Cryptic boleh juga....


Terima kasih, Tuhan
untuk setiap berkat kecilmu hari ini,
apapun itu.

Rabu, 13 Januari 2010

Ingat

Tidak terasa, pas hari ini,
persis setahun sudah kaki ini nginjek tanah Down Under,
mengisap udara kering benua yang dijejaki kangguru dan kasuari,
menatapi kelupas pohon-pohon Eucalyptus yang digelayuti koala,
dan mencicipi air sungai yang direnangi buaya dan platypus....
tak terhitung jumlah air mata, tawa, cemberut, senyum lewat,
kuliah, praktikum, tutorial, fieldtrip, assignments, exams
bertubi-tubi sampai lupa dunia, pontang-panting terbirit-birit
demam panas dingin, keringat berbutir jagung,
sampai badan tegang melayang
menghidupkan mimpi, memang benar-benar penuh warna...

Semuanya baru muncul jelas di benak,
saat hari-hari terakhir ini
kebagian mengantar teman-teman yang baru tiba di sini,
mahasiswa baru penuh energi,
meluap-luap berondongan pertanyaan,
"apa ini...?" "apa itu...?"
"mengapa begini...?" "mengapa begitu...?"
"kok bisa...?" "bukannya...?"
menjadikan dusun kecil ini
seperti medan perang yang harus ditaklukkan,
bersenjatakan mata penuh ingin tahu,
otot kaki yang seliat karet,
mengukur jalan seakan menyisir taburan ranjau darat,
tak sempat istirahat,
apalagi saat tertembak rudal terbesar...
godaan belanja....mauuut...

Siang ini, duduk melepas penat sambil merekam dan menunggu
cuma bisa tersenyum dan teringat,
setahun yang lalu keliatannya juga bertingkah sama:)















Sabar, kedua gadis kecil ini asyik sendiri di luar toko menanti ibunya berbelanja














Warna-warni di pelataran salah satu toko favorit, menjual barang murah dan berlabel bangsa sendiri.













Menunggu keputusan, masih mau belanja? yang mana? pulang? atau?













Mengantri, melihat, sambil menimbang-nimbang.











Mencuri foto dari sudut di depan toserba kelontong, kecapekan dan menonton orang lewat.


Untuk semua yang dulu bernasib sama dengan saya sekarang,
terima kasih tidak ada habis-habisnya.
Sudah setahun, dan saya masih punya banyak mimpi
ingin seperti mereka yang sekarang :)

Rabu, 06 Januari 2010

RINDU

Mungkin benar juga, perasaan membutuhkan sesuatu seringkali begitu kuat datang, justru saat yang dibutuhkan itu tidak tampak jelas, tidak ada di hadapan kita dan jauh dari jangkauan. Atau, meskipun ada, dekat, menempel di depan mata, masih berbeda nilai rasa, hingga tetap terasa kurang, dan kembali mengingatkan kita akan kebutuhan yang kurang itu.

Berhari, berbulan dan bertahun rentang waktu berlalu atau dinanti, dan betapapun rentang jarak tempat antara kita dengan yang dibutuhkan, bisa dirasa begitu menyiksa, merubah kita, memaksa menyalakan sumbu jiwa yang memancing pencarian tak berujung, atau bahkan mendesak kita untuk menyerah terpanggang penderitaan kosong tak terobati.

Tak berbilang sudah jumlah para pemimpi, pengembara dan penjelajah yang berkelana tersiksa hatinya sendiri, lalu dengan penuh sadar atau setengah linglung memerintah isi kepalanya untuk berjalan sesuai nalurinya itu. Separuh dunia mungkin saja dijejaki, lebih dari separuh usia mungkin saja ditempuh, untuk kemudian kembali ke pintu rumah yang sama, pulang ke sudut paling sederhana benak kita sendiri, untuk menemukan titik keindahan dari jawaban impian usang kita yang paling dalam.

Perasaan merindu, menginginkan, memimpi-mimpikan, bukan melulu urusan hati yang melibatkan sosok-sosok pencinta atau otak yang sering semrawut dan kusut dengan segala macam hal, kekuatannya bahkan mampu menjajah perut, wilayah pengolah tenaga ke seluruh organ lain. Bagaimanapun bentuk kontemplasinya, hanya dengan membuka mata untuk apa yang ada di keseharian, ternyata mampu menyiratkan keserupaan menyolok untuk satu rasa yang sama.














Spaghetti sarden kalengan bertabur parmesan, anggap saja mie panjang umur made in Maknyak tersayang, meski panjang "mie" yang ini sudah standard, karena dipotong seragam :D














Sushi n curry puff left-over dari kulkas, dicocok-cocokin aja dengan alpukat bermadu n nenas dingin, di detik-detik terakhir berkhayal isi tudung saji di rumah, sebelum pingsan kelaparan sehabis kerja...














Yang ini, menu dengan kekuatan sihir homesick paling kuat, kalau lapar tidak mengamuk, pasti acara makan sudah penuh air mata...tempe goreng seharga ayam sekilo, bayam merah beserta sambal kecap.... Ah!

Buset....gimanapun dibelokin, semua kok akhirnya selalu menuju ke satu arah...

Minggu, 03 Januari 2010

Tamu-tamu kecil

Hujan, untukku, selalu menjadi momen yang melukiskan cinta;
bukan saja karena ada pelangi di ujungnya,
atau ada mendung di awalnya,
atau ada jutaan butiran air berbagai ukuran di dalamnya,
tapi juga karena ada hawa perubahan yang dibawanya.

Dan benar saja, belum sampai sepuluh hari dusun ini diguyur hujan, sudah ada yang mulai berubah di sana-sini.
Kemarin, seusai bekerja, badan kuyup oleh keringat, kepala kesetrum migren berat, tetap memaksakan diri menginspeksi halaman belakang; sebuah ritual lama yang sudah mulai ditinggalkan, sejak tak ada lagi keharusan menyiram pot-pot tanaman bumbu dan petak penuh rumput kering, setelah semua lenyap disapu badai musim panas.
Segar rasanya menatap dedaunan hijau menguasai sebidang tanah yang awalnya kerontang tak bernyawa. Rumput segala model menggulma cepat, panjang-panjang, berkilat, berantakan di sela-sela pendahulunya yang mati, menantang mata pisau mesin babat yang masih ngadat karena rusak onderdilnya.

Lalu, plop!
Beberapa alien bermunculan di sela-sela rumput menggila itu.































Jamur, cendawan, fungi...seperti adonan roti salah resep, numplek membulat seenaknya, atau kuning kecil dan malu-malu menutup tudungnya, dan yang lainnya mekar sembunyi-sembunyi dengan gerigi rumah sporanya.


















Entah yang manapun, yang jelas, perjuangan memotret tamu-tamu kecil ini sambil bergulingan di rerumputan yang belia dan lembut, membuatku semakin mencintai hujan.


Teramat lagi, merindukan pelangi

Jumat, 01 Januari 2010

0101-10

Sempat kehilangan semangat, sewaktu hujan menandai sebagian besar hari kemarin, hari terakhir di tahun yang lalu. Dingin dan basah ikut menemani sampai di ujung-ujung lantai rumah kaca, yang mulai menjadi sahabat di beberapa waktu terakhir ini. Meragu, mungkinkah bakal jadi malam kelabu lagi, sama seperti malam-malam penuh badai musim panas lainnya...














Belum cukup, masih ditambah lampu padam hingga gelap, nganggur, duduk di halaman dan jadi penonton pergantian trafo di gardu depan rumah. Langit mulai bersih, bulan masih malu-malu, tapi rasa pasrah sudah menyebar, mungkin yang berpendar-pendar di televisi bakal lebih indah....














Jreeeeennnng..... seperti biasa di injury time, bisa tersenyum-senyum sendiri, di bibir pantai The Strand, mengatur posisi masing-masing di atas batu, di hamparan rumput berembun, penuh angin dan gerimis....














Kembang api!!!!!














Bingung mau merhatiin yang asli, mau nekan tombol kamera, atau ngatur tripod kecil penuh kelereng plastik, yah malam tahun baru penuh cahaya, gak mau tau diri dengan tangan dan kemampuan amatir, tetap maksain niat gak tau malu untuk menjadi pro....














Satu yang penting, mungkin harus selalu berkeinginan seperti seorang anak kecil, percaya bahwa sesuatu bakal diperoleh, bagaimanapun caranya, dan menyerah dengan tenang hingga semuanya didapatkan.














Gambar sesuai urutan:
Yang terbuka dan berkelambu, mahluk-mahluk paling penting dalam rumah kaca kampus;
Yang dikejar waktu dan ditunggu penuh sabar, tim ergon energy yang kebagian lembur;
Yang lain-lain, yang bikin hari ini lebih berbeda karena gak disangka, bisa juga akhirnya.

Makasih berat untuk Mb'Dian Latifah & Conni Sidabalok, dan yang pasti untuk seorang pengejar kelip cahaya kembang api nun jauh di sana, ingat kwacinya yaaaa...:D


Ini sudah pagi lagi,
dan ada banyak pengharapan,
semua yang ada di hadapan
akan selalu lebih baik dari yang sudah lalu
Amin.


Selamat tahun baru

Senin, 28 Desember 2009

Koleksi lama II

Babak kedua, sebagian kecil koleksi dari Mt.Zero/Taravale Wildlife Sanctuary. Saat dikunjungi pertengahan September lalu, kawasan ini sedang dalam proses manajemen api, dibakar secara terencana untuk mencegah meluasnya hutan hujan tropis dari kawasan Paluma National Park yang berbatasan langsung dengan si Sanctuary.

Suasana lokasi fieldtrip yang dipenuhi padang mengering, lantai hutan penuh jelaga, angin panas terik, udara penuh asap, dan hampir tidak ada badan air selain kolam-kolam mati berlumut hijau, betul-betul membuat hasrat untuk tetap tidur di tenda begitu kuat.














Salah satu pohon dalam petak yang dibakar, ada gua liliput di dalamnya, masih berasap dan panas sekali....














Ngumpul karena penasaran, ngamatin si berbisa Eastern brown snake Pseudonaja textilis yang berhasil ditangkap para asisten, tapi gak berhasil dipotret krn tetap diaman-in dalam plastik....














Perkampungan mahasiswa selama fieldtrip, masih pagi banget...lengkap dengan kabut asap yang mengepung dari hutan dan pohon terbakar di dekatnya.














Brooke Bateman, PhD fellow berwajah secantik Kate Middleton, salah satu asisten yang sedang meneliti mamalia di Queensland, bersiap-siap melepaskan seekor Long-nosed bandicoot Perameles nasuta yang sudah menginap semalaman dalam perangkap berumpan daging ayam...














Si kecil Daisy, satu-satunya yang berwarna menyolok di tengah hitamnya tanah yang terbakar. Anggota famili Asteraceae ini memang berkelopak seperti kertas yang liat, mekar dan melepas biji-biji ringannya untuk terbang justru setelah terkena asap dan api, bersiap menanti hujan untuk tumbuh menjadi sekawanan rumpun bunga di kawasan kering ini.


Fieldtrip yang menyenangkan dan tak terlupakan,
pulang dengan alga hijau di antara jalinan rambut,
berkasutkan abu kayu meranggas,
terlelap dalam kemerahan periodical fever

Minggu, 27 Desember 2009

Koleksi lama I

Yang ini babak pertama, koleksi lama dari sepanjang Burdekin River Catchment System dan Mt.Zero/Taravale Wildlife Sanctuary. Yang satu berbasah-basah dan yang lainnya penuh asap sampai berembun. Masih saja bisa mirip, karena keduanya bagian dari fieldtrip yang penuh dengan assignment dan demam panas-dingin.

Sepanjang Burdekin dkk



















Kebun tebu dengan selang irigasinya...ringkas, rapih dan optimal


















Tempat mengaso ideal, persis di samping kebun tebu














Tertangkap basah, seekor phyton zaitun Liasis olivaceus entah sedang asyik berenang atau justru berjuang keluar dari saluran irigasi. Ular tak berbisa yang digelari terbesar kedua di Australia ini memang suka berkelana di sekitar celah bebatuan dan badan air, lalu ngumpet menunggu mangsa di sana...














Yang ini Sheepstation Creek, kali kecil yang penuh tumbuhan air dari tepian sampai ke dasar airnya. Tidak keliatan seekorpun domba alias sheep saat didatangi, pada ilang entah di mana.















Daphnia pertamaku.... haiyaaa lucu banget,
berhasil dipotret dengan kamera ajaibku,
n langsung jadi bahan laporan...kasian...


Fieldtrip yang meneduhkan,
persis saat komplikasi yellow-heart fever menyerang
kepala terpusing-pusing dan akhirnya terkapar menyerah.

Sudah mulai?

Tidak ngerti ini sudah masuk awal musim badai di Queensland, atau hanya sekedar kesambit ekor-ekor putaran si Laurence, siklon tropis yang memotong miring garis bujur benua kering ini... yang pasti, hujan yang dibawanya bisa menghapus hari-hari sepanas neraka di dusun Townsville ini....
















Siap-siap jatuh





















Akhirnya jatuh juga...
gagal ke mana-mana


Ada yang diam-diam muncul, lalu asyik sendiri....Litoria infrafrenata


Hari-hari ini,
saat ku lelah merindu, dan hujan rinduku,
akhirnya badai sendiri yang datang menjemputku...
indah.